Membaca tulisan dr. Ani Hasibuan, ahli syaraf di RSCM Jakarta tentang kisah pengabdiannya sebagai seorang dokter yang sangat menjunjung tinggi sumpah hipocrates ini membuat jiwa kita berontak melihat kenyataan yang dipaparkan oleh dr. Ani Hasibuan.

Mencoba mengambil hikmah dari sepenggal kutipan kisahnya tentang pengalamannya menangani pasien HIV yang notabene bermula dari kebiadaban LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender).
“Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat mahasiswa salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol tinggal di Dallas, Amerika Serikat. Mahasiswa ini tinggal sendiri, anaknya tampan, klimis dan kelihatan anak baik. Sang dominan sering ikut mengantar kalau mau kontrol. Jangan kaget, dominannya ini seorang aktivis LSM Anti-HIV. Itu kalo si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini dengan senang mengelus-elus punggungnya si submissif sambil bilang ‘sakit ya, sayang?’ ‘yang mana sakitnya?’ ‘sabar ya, sayang..?’. Tapi saya juga pernah dapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis TB, jadi lumpuh kedua kakinya. Ada juga gay kakak beradik, semasa kecil dikasih satu kamar satu ranjang oleh orang tuanya. Pas gede, tau-tau sang kakak kena kripto. Ketika dicek kena HIV positif, ditanya pasangannya siapa? ternyata adiknya. Saat dicek menunjukan adiknya juga kena HIV positif. Kedua-dunya sudah meninggal dalam satu ruangan rawat yang sama. Ayahnya sampai anak tersebut dikubur pun tidak pernah datang jenguk”.

“Dikisahkan juga seorang piaraan bayaran (gigolo) sekarang sudah meninggal dunia. Dipiara seorang lelaki China untuk bayaran USD 1000-2000 perbulan, uangnya dikirim untuk menafkahi anak istrinya di Yogya. Dia ini sejatinya bukan gay tapi semacam pelacur lelaki. Waktu ketahuan bahwa yang bersangkutan HIV positif dan tokso menangis meraung-raung. Kalo sedang diperiksa selalu terisak-isak dan bilang menyesal. Saat saya ketemu istrinya, justru saya yang berkaca-kaca (menangis), sebab istrinya perempuan berhijab rapi dengan dua balita yang juga berhijab”. Baca juga: Pesta Kemerdekaan Melatih Rasa Cinta Tanah Air
Tentunya kisah dr. Ani Hasibuan ini dalam menghadapi lika liku laki-laki seperti ini hendaknya menjadi peringatan keras bagi semua orang tua sekaligus sebuah gambaran nyata dalam keterselubungan masalah sosial yang mengerikan dibalik kelamnya kehidupan mereka. Munginkah kisah menyedihkan seperti ini akan terjadi pada orang-orang terdekat kita, tentunya tidak satu pun dari kita menginginkan hal itu terjadi. Baca juga: Spirit Baru Dibalik Penerima Manfaat Bansos
Sayangnya, sebagian dari kita justru berada dalam skenario jebakan yang secara berulang-ulang kita lakukan, anehnya kita anggap biasa saja. Kebiasaan-kebiasaan tanpa pengetahuan yang kuat diperagakan lewat seremonial, teater, panggung, karnaval, acara-acara pesta demokrasi, hari kemerdekaan serta termasuk tayangan-tayangan di media mainstream (medsos) dan sebagainya bahkan itu dihidupkan dalam skala masiv dipertontonkan perilaku, gaya dan cara bicara, gestur, konsep feminisme kepada masyarakat. Kita ambil contoh bagaimana bernafsunya anak remaja dan tak terkecuali orang tua juga ambil bagian dalam mengusung tema-tema feminin padahal tak sewajarnya itu dilakukan oleh seorang laki-laki sehat akal sehat fisik, tuntutan skenario cerita atau syarat tertentu (kontradiktif) sering mengajak kita berkompromi dengan perilaku yang menyimpang dan berpotensi menghidupkan agenda besar LGBT. Baca juga: Dilema Bansos Dalam Pelayanan Sosial