Ramadan
Trending

Saatnya Kembali kepada Pembentukan Karakter

Oleh: Herlian, S.Pd., Gr. Kepala SMA IT Cahaya

PENDIDIKAN hari ini banyak menghasilkan generasi berprestasi, tetapi belum sepenuhnya melahirkan pribadi yang berkarakter kuat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa arah pendidikan perlu kembali diteguhkan.

Kita dapat melihat semakin majunya dunia teknologi semakin banyak perubahan dalam dunia pendidikan. Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan sangat memengaruhi proses belajar murid. Pada zaman yang semakin maju, sekolah berlomba mencetak murid berprestasi. Nilai tinggi, peringkat membanggakan, serta berbagai sertifikat menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan.

Namun di balik itu semua, muncul kegelisahan sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat. Masih banyak generasi yang mudah menyerah, kurang jujur, serta kehilangan arah hidup dan tidak fokus pada satu tujuan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masih berjalan tidak seimbang, kuat dalam transfer pengetahuan tetapi lemah dalam pembentukan karakter. Ilmu tanpa karakter ibarat cahaya tanpa arah, terang tetapi tidak menuntun.

Allah Swt. mengingatkan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa usaha dari diri sendiri
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d 11).

Pendidikan sejati bukan sekadar memindahkan isi buku ke dalam pikiran murid. Pendidikan merupakan proses membentuk manusia seutuhnya yang memiliki akal, hati, dan perilaku. Dalam Islam, hal tersebut dikenal sebagai tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Rasulullah saw. bersabda
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).

Hadis tersebut menegaskan bahwa misi utama pendidikan dalam Islam adalah pembentukan akhlak. Ilmu memiliki peran penting, tetapi akhlak menjadi fondasi. Tanpa akhlak, ilmu dapat disalahgunakan. Dengan akhlak, ilmu menjadi cahaya kebaikan.

Tanggung jawab dalam pendidikan karakter tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Orang tua, guru, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Orang tua menjadi madrasah pertama, guru menjadi teladan di sekolah, dan lingkungan menjadi penguat nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Swt. berfirman
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim 6).

Ayat tersebut menegaskan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam pendidikan. Sekolah dan masyarakat kemudian memperkuat nilai yang telah ditanamkan. Pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan kesadaran dan kerja sama.

1 2Laman berikutnya