Ramadan Harapan

Indonesia punya modal sosial kuat mewujudkan harmoni lintas iman. Dalam studinya tentang agama di Jawa, Clifford Geertz menunjukkan bagaimana sinkretisme menjadi fondasi kebudayaan kita. Kebiasaan gotong royong, saling mengunjungi saat hari raya, dan saling berbagi telah lama dipraktekkan seantero negeri. Tidak mengherankan jika Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia untuk keenam kalinya berturut-turut menurut World Giving Index 2023. Penilaian pada 142 negara itu didasarkan pada tiga aspek: membantu orang lain, menyumbang uang, dan menjadi relawan. Modal sosial tersebut menjadi bagian penting untuk merawat kesadaran keberagaman sebagai fondasi membangun toleransi.
Tahun 2024 mencatatkan momen penting bagi toleransi beragama – ketika Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mencium kepala Paus Fransiskus. Gestur sederhana ini menyiratkan eratnya hubungan Islam dan Katolik, sekaligus merefleksikan harmoni kehidupan beragama di Indonesia. Data mendukung optimisme ini. Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menunjukkan tren positif, skor 73,09 pada 2022, meningkat menjadi 76,02 pada 2023, dan terus naik ke 76,47 pada 2024. Sementara data Setara Institute 2023 mencatat penurunan kasus intoleransi sebesar 15 persen menandakan adanya kemajuan dalam menerima perbedaan.
Namun, menjaga kerukunan butuh lebih dari sekadar toleransi pasif. Keragaman hanya bisa dirawat dengan empati aktif. Tradisi Open House, yang menurut survei Wahid Foundation 2023 dinilai positif oleh 87 persen responden, menjadi contoh konkret. Di berbagai daerah, praktik saling membantu dalam perayaan keagamaan sudah berjalan dengan baik. Ada peran besar Remaja Masjid dalam prosesi Semana Santa di Flores Timur, NTT. Aksi saling menjaga dalam perayaan keagamaan Kristen dan Islam dalam tradisi Pela Gendong di Maluku. Pelibatan pemuda Muslim seperti Banser Nahdlatul Ulama dalam perayaan Natal di Jawa dan sebagainya. Itu semua membuktikan toleransi di Indonesia bukan sekadar narasi tetapi realitas yang bisa dikelola dengan baik.
Ramadan dan Yubileum bisa menjadi momentum memperkuat empati aktif ini. Dua tradisi ini mengingatkan kita bahwa agama tidak sekadar doktrin tetapi praksis kehidupan. Kita semua adalah peziarah yang mencari cahaya dalam perjalanan hidup ini. Dan sering kali, kita menemukan terang itu dalam kehadiran orang lain. Seperti yang ditulis Rumi, The wound is the place where the light enters you. Luka-luka sejarah dan gesekan sosial bisa menjadi ruang bagi cahaya kebijaksanaan dan rekonsiliasi, jika kita mau membuka hati.
“Ramadan yang Menyenangkan dan Menenangkan,” tema bulan suci tahun ini. Jika dimaknai bersama sebagai peziarah harapan, bisa menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia yang lebih harmonis. Di meja iftar, di bawah lonceng gereja, dalam denting gamelan pura, di tengah suara gong vihara, atau nyala lilin di klenteng, kita merayakan keberagaman sebagai anugerah sambil terus melangkah bersama menuju masa depan yang penuh cahaya. Itulah hakikat kita sebagai peziarah harapan.
(Penulis : Aleksander Nantu, ASN Ditjen Bimas Katolik. Sumber : kemenag)