Ramadan dan Gawai, Anak-anak ke mana?
Oleh: Muhamad Suwindra, S.Pd. Gr Pengajar di SDIT Alam Cahaya Toboali

Dampak penggunaan gawai yang tidak terkontrol selama libur Ramadan tidak dapat dianggap sepele. Anak menjadi kurang aktif secara fisik, berkurang interaksi sosial, serta cenderung kehilangan kedisiplinan dalam mengatur waktu, termasuk dalam menjalankan ibadah.
Tidak sedikit anak mulai melewatkan waktu salat berjemaah, enggan mengikuti tarawih, atau tidak lagi terlibat dalam kegiatan tadarus di lingkungan. Waktu yang seharusnya diisi dengan amalan tersebut justru tersita oleh aktivitas digital yang tidak memiliki nilai pembentukan karakter.
Paparan konten digital tanpa pendampingan juga berisiko membentuk pola pikir instan. Anak terbiasa menerima tanpa proses, berbeda dengan pengalaman nyata maupun ibadah yang menuntut kesabaran, konsistensi, serta keterlibatan langsung.
Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa gawai tidak lagi sekadar alat hiburan, tetapi telah mengambil porsi besar dalam kehidupan anak. Peran lingkungan serta nilai Ramadan sebagai sumber pembelajaran perlahan tergeser.
Peran orang tua menjadi kunci dalam mengembalikan keseimbangan tersebut. Penggunaan gawai perlu dibatasi, disertai dengan menghadirkan alternatif kegiatan yang bermakna, termasuk membiasakan anak terlibat dalam ibadah dan aktivitas sosial di lingkungan.
Lingkungan masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Kegiatan di masjid, ruang terbuka seperti pantai, hingga aktivitas di sekitar permukiman dapat menjadi sarana agar anak tetap aktif, terarah, serta terhubung dengan nilai Ramadan.
Libur Ramadan bukan sekadar waktu jeda dari pendidikan formal. Waktu tersebut merupakan kesempatan untuk memastikan anak tetap tumbuh melalui pengalaman yang utuh, baik melalui interaksi sosial, lingkungan, maupun praktik ibadah sehari-hari.
Apabila kondisi tersebut terus berlangsung, bukan hanya waktu libur yang kehilangan makna. Anak berisiko tumbuh tanpa kedekatan dengan lingkungan, tanpa keterlibatan dalam ibadah, serta tanpa pengalaman nyata yang membentuk karakter. Pada akhirnya, yang hilang bukan sekadar momen Ramadan, melainkan arah tumbuh sebuah generasi.