Ramadan
Trending

Ramadan dan Gawai, Anak-anak ke mana?

Oleh: Muhamad Suwindra, S.Pd. Gr Pengajar di SDIT Alam Cahaya Toboali

RAMADAN seharusnya menjadi ruang yang hangat bagi anak-anak untuk tumbuh melalui kebersamaan, permainan, dan pengalaman spiritual. Namun perubahan zaman menghadirkan kebiasaan baru yang perlahan menggeser cara anak menikmati waktu. Layar gawai semakin mendominasi, sementara ruang interaksi nyata mulai ditinggalkan.

Menjelang waktu berbuka di Toboali, suasana yang dahulu ramai oleh anak-anak kini mulai berubah. Pada saat pantai dan pematang sawah seharusnya dipenuhi tawa dan permainan, tidak sedikit anak justru menghabiskan waktu di dalam rumah dengan menatap layar gawai tanpa jeda.

Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan kebiasaan. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan gawai pada anak cenderung meningkat, terutama saat libur sekolah. Tanpa pengawasan yang memadai, anak dapat menghabiskan waktu lebih dari empat hingga enam jam setiap hari di depan layar, termasuk selama bulan Ramadan.

Libur sekolah pada bulan Ramadan seharusnya menjadi ruang penting bagi anak untuk berkembang, baik secara sosial maupun spiritual. Namun di Toboali, Bangka Selatan, kecenderungan penggunaan gawai yang berlebihan mulai menggeser fungsi waktu libur tersebut.

Di sejumlah lingkungan, anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Gawai menjadi teman utama sejak pagi hingga menjelang berbuka. Aktivitas yang sebelumnya diisi dengan bermain di luar rumah perlahan tergeser oleh dunia digital yang serba instan.

Padahal Ramadan menghadirkan banyak ruang pembelajaran yang tidak hadir setiap saat. Aktivitas ibadah seperti salat berjemaah di masjid, tarawih, hingga tadarus Al-Qur’an bukan hanya rutinitas keagamaan, tetapi juga proses pembentukan kebiasaan, kedisiplinan, dan kebersamaan bagi anak.

Lingkungan sekitar sebenarnya telah menyediakan ruang belajar yang nyata. Kawasan pantai dan persawahan, misalnya, bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi juga memberikan pengalaman langsung tentang kehidupan, proses, serta interaksi sosial yang tidak dapat diperoleh dari layar.

Namun ketika sebagian besar waktu dihabiskan dengan gawai, kesempatan tersebut perlahan hilang. Termasuk kesempatan anak untuk terlibat dalam kegiatan ibadah yang seharusnya menjadi bagian dari keseharian pada bulan Ramadan.

1 2Laman berikutnya