Babelhebat

Permainan Tradisional Milud Dalam Pembelajaran Penjas di Sekolah Dasar

* Untuk Edukasi Fair Play

Oleh : Hermin Roswita S.Pd
Guru Penjaskes SD Negeri 1 Gantung, Belitung Timur

EDUKASI atau pembelajaran adalah suatu poses yang komplek yang terjadi pada setiap orang sepanjang hidupnya. Proses pembelajaran tersebut karena ada interaksi antar seseorang dengan lingkungan. Dalam proses penjas tujuannya adalah membantu peserta didik agar meningkatkan keterampilan gerak, merasa senang dan mau berpartisipasi dalam berbagai aktifitas.

Permainan tradisional merupakan permainan yang sudah ada sejak dulu. Setiap daerah di Indonesia mempunyai permainan tradisional yang berbeda-beda. Daerah Kepulauan Bangka Belitung sendiri punya banyak permainan tradisional seperti milud, gasing, bakiak, peletikan, cato dan lain-lain. Akan tetapi permainan ini hampir terlupakan oleh masyarakat, terutama anak-anak.

Anak-anak lebih sering melakukan permainan modern daripada permainan tradisional. Salah satu permainan yang paling di gemari di Belitung, khususnya Gantung adalah milud. Permainan milud serupa dengan permainan tradisional gobak sodor. Permainan milud ini memliki jumlah pemainnya 5 orang dalam satu grup.

Grup tersebut harus melewati hadangan grup lain yang terdiri dari 5 orang peserta lainnya. Arena milud dibuat kotak-kotak seluas sekitar 2×2 m2 sebanyak 8 kotak yang dibatasi oleh tali rapia atau garis. Langkah-langkah permainan milud yaitu pertama-tama membuat kotak (menggunakan tali rafia) sebanyak 8 buah kotak berbaris dua dengan waktu permainan 2 x 5 menit. Kemudian ditentukan siapa tim yang terlebih dahulu menyerang dan tim yang bertahan agar areanya tidak ditembus pemain lawan.

Nilai diberikan kepada pemain yang berhasil keluar dari area lawan yang dijaga dan jika ada salah satu lawan tertangkap atau tersentuh oleh pemain lawan maka dilakukan rotasi lagi tim yang menyerang dan bertahan. Siapa yang berhasil memperoleh nilai terbanyak maka tim tersebutlah yang menang.

Permainan tradisional merupakan permainan yang mempunyai beberapa karakter yang dikembangkan antara lain digambarkan dalam bentuk perilaku kejujuran, menghargai orang lain, menghargai rasa hormat pada lawan, pengendalian diri, kemauan dan tanggung jawab. Dari semua karakter yang dikembangkan di atas disebut dengan fair play.

Fair play adalah kebesaran hati terhadap lawan yang menimbulkan perhubungan kemanusian yang akrab dan hangat dan mesra. Fair play merupakan kesadaran yang selalu melekat, bahwa lawan bertanding adalah kawan bertanding yang diikat oleh pesaudaraan olahraga. Jadi fair play merupakan sikap mental yang menunjukkan martabat ksatria pada olahraga. Nilai fair play melandasi pembentukan sikap dan selanjutnya sikap menjadi landasan perilaku.

Fair play dapat berarti terang, adil, wajar, cantik. Menurut Rusli Lutan (2003: 127), fair play adalah kebesaran hati terhadap lawan yang menimbulkan hubungan kemanusiaan yang akrab, hangat dan mesra. Fair play merupakan sikap mental yang menunjukan martabat ksatria pada olahraga, seperti contohnya ketika pertandingan berakhir kedua tim bersalaman dan berangkulan.

1 2Laman berikutnya

Tom Hebat

Berdiri di Atas Semua Golongan