Oleh : Nusation
Penyuluh Sosial Madya Pada Dinas Sosial & PMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
TELEVISI adalah media informasi dan hiburan yang menarik dan selalu setia menemani hari-hari kita dan keluarga. Setiap orang membutuhkan informasi dan hiburan, terkadang sudah menjadi agenda rutinitas harian menonton televisi. Beraneka warna tayangan yang mampu menghipnotis penontonnya dengan khidmat di depan televisi. Mulai dari lanjut usia hingga balita, tak terbatas usia dan status. Kemasan acaranya pun dirancang sesuai selera masa dan pasar, hampir semua segmen tersedia. Kontennya pun penuh warna warni yang menyajikan tentang kehidupan, petualangan, drama, berita, talkshow dan hiburan (lawakan). Semua itu untuk memanjakan pemirsa setianya.
DIBALIK gemerlapan tayangan televisi mungkin sepintas kita merasa mendapatkan semangat baru, informasi yang berguna, hiburan yang membuat kita tertawa dan bahagia bahkan tidak jarang menjadikan pribadi kita cengeng, bersedih dan menangis dengan kekuatan tayangan yang apik dan menyentuh. Dan tidak sedikit juga yang terinspirasi untuk melakukan hal yang serupa seperti yang diperankan oleh idolanya. Dalam waktu bersamaan, sadar atau tanpa disadari gestur dan perilaku yang didambakannya tersebut membuntuti dan membayangi sisi-sisi kehidupan nyatanya bahkan nilai-nilai hidupnya bisa jadi bergeser. Keinginan menjadi pribadi baru pun terkadang muncul dan hasrat untuk mencoba berperilaku baru juga mengusiknya. Transformasi nilai dan perilaku tersebut tentunya harus dikenali lebih dalam agar sedini mungkin bisa diantisipasi terutama internal keluarga kita terutama bagi anak dan remaja. Usia anak dan remaja bagian dari proses transformasi nilai dan perilaku yang penuh riskan dan menantang. Karena rentang masa pencarian identitas diri berlangsung pada usia remaja sangat signifikan, sehingga perilaku normal maupun abnormal kadangkala menjelma sama dikalangan remaja dan yang penting dianggap bisa berekspresi, serta mengaktualisasi diri dalam kelompoknya.
Penulis tertarik dengan fenomena tontonan televisi yang hampir setiap segmen acara menyajikan perilaku yang menyisipkan gestur, sikap, perilaku dan nilai moral bernuansa feminine (lebay) padahal diperankan seorang yang normal. Dahsyatnya, peranan seperti ini dianggap normal-normal saja dan menarik. Peran watak “waria alias feminine” menjadi menu pokok sepertinya yang sodorkan dalam acara televisi termasuk realitas sekitar kita, karena memberikan hiburan dan daya pikat tersendiri disamping memang disukai oleh pemirsa. Kenyataan ini menunjukan bahwa perilaku dan nilai moral yang digambarkan dalam tayangan dan peran tersebut dianggap hal yang wajar dan biasa saja. Persoalannya, apakah kita menginginkan pribadi anak dan remaja kita suatu ketika seperti itu ? jika tidak, lantas mengapa dibiarkan perilaku ‘abnormal’ tersebut diabaikan menjadi model baru yang digandrungi semua kalangan. Tidak ada satu orang tua pun menginginkan generasi penerusnya menjadi seperti itu. Sejalan dengan itu, mengutip pendapat beberapa ahli bahwa perilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya dan tidak sesuai dengan norma-norma yang ada. Pertanyaannya, seberapa besar penerimaan masyarakat kita terhadap perilaku tersebut…Memang secara normatif belum menegaskan peran-peran maskulin menjadi feminine (waria) baik melalui media mainstream maupun dunia nyata termasuk bagian dari perilaku abnormal. Namun, pesan-pesan moral dan etika yang ditangkap oleh anak remaja bisa jadi perilaku yang menyenangkan, mengasyikan, heboh, disukai dan bersifat hiburan. Eksplotasi perilaku normal menuju abnormal tanpa disadari kita izinkan menyentuh penjiwaan anak remaja kita. Pada level tertentu, dikhawatirkan membentuk kebiasaan yang tidak biasa dilakukan banyak orang. Dan yang lebih mengerikan lagi, hiburan-hiburan yang langsung diperankan oleh anak remaja kita seperti acara karnaval, tujuh belasan, pesta komunitas, lomba peran, bahkan berani memproklamirkan diri sebagai komunitas resmi. Sepertinya kita hampir terjebak ke dalam perangkap ‘loss generation’ yang akan mengkerdilkan bangsa ini jika figuran-figuran konyol seperti ini dijadikan trend dan anehnya dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat.
Pesan moral yang menjadi keperihatinan penulis bahwa pertama, telah terjadi ekploitasi berperilaku ‘abnormal’ yang seolah-olah normal. Kita takutkan pada waktunya nanti kita akan terkaget jika menemukan anak remaja kita menganggap cara hidupnya biasa saja padahal bertentangan dengan norma sosial budaya yang ada. Kedua, kekhawatiran berkembangnya peran ganda yang memanipulasi status anak remaja. Kondisi ini akan sangat sulit terdeteksi oleh lingkungannya, sehingga jati dirinya dipertanyakan. Ketiga, kedangkalan moralitas dan etika hidup. Anak remaja kudu mendapatkan asupan nutrisi berperilaku dan edukasi di sekolah secara wajar. Slogan-slogan berlabel gender harus diporsikan sesuai kaedahnya. Keempat, seremonial, pesta, karnaval atau apa saja namanya yang mengusung tema-tema kontroversial dengan perilaku normal hentikan, agar tidak menjadi contoh buruk bagi anak remaja. Alihkan dengan konsep-konsep yang normal dan konstruktif untuk perkembangan akhlak dan perilakunya. Kelima, penggunaan narasi dan konten komunikasi verbal dalam menyampaikan pesan hindari dari multi tafsir. Anak remaja disuguhkan dengan kosa kata dan pemahaman tekstual dan kontekstual.
Dipenghujung tulisan sederhana ini, dengan penuh harap mari kita pandu dan kawal anak remaja kita mengenali kodratnya dan diperkenalkan dengan moralitas, estetika, dan etika berperilaku sedini mungkin agar sesuai dengan tata nilai agama dan budaya, sehingga terhindar dari hegemoni tayangan dan peran-peran keniscayaan yang tidak perlu dilakoni. Semoga kita tidak kehilangan generasi berkualitas dan berakhlah mulia. Aamiin.(**)