KELUHAN petani Desa Rias tentang kerusakan lahan sawah akibat keruhnya air irigasi dan masuknya air laut bukan lagi sekadar gangguan musiman. Kondisi ini mengancam ratusan hektar sawah yang menjadi sumber hidup petani dan menunjukkan bahwa tata kelola lingkungan di hulu dan hilir sungai Pumpung serta Jangkang masih jauh dari aman. Saat petani berteriak, pemerintah daerah tidak bisa terus bergerak lambat.
Setelah keluhan berulang disampaikan, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan (Pemkab Basel) melalui Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan bersama sejumlah dinas terkait baru akan turun ke lapangan untuk mulai bekerja menyikapi persoalan yang dialami petani Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kamis (27/11/2025).
Petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air atau GP3A Junjung Besaoh mengeluhkan keruhnya air irigasi yang mengaliri ratusan hektar sawah. Kondisi ini diduga muncul akibat aktivitas pertambangan timah di hulu Sungai Pumpung.
BACA JUGA: Air Irigasi Keruh Akibat Tambang, Petani Rias Bangka Selatan Berteriak
Selain air keruh, petani juga menghadapi persoalan air laut yang meluap masuk ke pematangan sawah melalui muara Sungai Pumpung dan Sungai Jangkang yang baru dinormalisasi. Tanggul sungai yang masih rendah membuat air laut pasang tinggi melewati batas sungai lalu menggenangi petak sawah.

Dampak paling parah dirasakan lima kelompok tani yang tergabung dalam GP3A. Tanaman padi rusak akibat air laut yang masuk ke areal persawahan tersier.
Keluhan petani Desa Rias telah disampaikan melalui surat resmi kepada Dinas PUPR dan Dinas Pertanian Bangka Selatan tertanggal 10 November 2025.
“Besok (Kamis_red) tim dari dinas kami (Pertanian_red) bersama Satpol PP akan turun ke lokasi menindaklanjuti keluhan petani Desa Rias,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Bangka Selatan, Risvandika, Rabu (26/11) malam.





