Menjaga Lisan dalam Kebaikan
Oleh: Novia Hana Septiawati, S.Psi Pengajar di SMA IT Cahaya Toboali

SETIAP kata yang terucap tidak pernah benar-benar sederhana. Setiap ucapan mengandung nilai, niat, serta tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan manusia maupun Allah Swt.
Dalam kehidupan sehari-hari, lisan menjadi bagian yang erat dengan kehidupan manusia. Melalui lisan, manusia dapat berkomunikasi, menyampaikan informasi, dan mengekspresikan perasaan. Namun, di balik itu semua, lisan juga dapat menjadi sumber kebaikan atau keburukan, tergantung pada cara menggunakannya. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, lisan merupakan bagian tubuh yang paling kecil, tetapi dapat menjadi sumber kebaikan atau keburukan yang besar. Lisan diibaratkan seperti pisau bermata dua.
Di satu sisi, lisan dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan, seperti menyampaikan ilmu, memberi nasihat, dan menghibur orang lain. Namun, di sisi lain, lisan juga dapat melukai hati orang lain melalui perkataan buruk, seperti fitnah, gosip, dan ujaran kebencian.
Imam Al-Ghazali juga berpendapat bahwa lisan merupakan cerminan hati dan iman seseorang. Lisan bukan hanya alat untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai penerjemah hati. Jika hati seseorang kotor, lisannya mudah menyakiti dan menyebabkan berbagai dosa lisan, seperti ghibah, fitnah, dan ucapan sia-sia.
Dalam perspektif psikologi sosial, ucapan yang keluar dari lisan tidak hanya mencerminkan kepribadian individu, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap hubungan dengan orang lain, cara seseorang membentuk jati diri, dan interaksi dalam kelompok. Psikologi sosial menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar karena dapat membangun atau menghancurkan suatu hubungan. Hal tersebut menyebabkan tidak sedikit kasus kejahatan terjadi akibat ketersinggungan sebagai bentuk dari tidak terjaganya lisan.
Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma. Suatu ketika Nabi Muhammad saw melewati sebuah pasar dan menemukan bangkai kambing dengan kondisi tanduk patah, kaki patah, dan mata buta. Beliau bertanya kepada para sahabat yang sedang bersamanya tentang siapa yang ingin membeli bangkai kambing tersebut. Salah seorang sahabat menjawab bahwa jangankan sudah menjadi bangkai, ketika masih hidup pun kambing tersebut tidak akan dibeli karena keadaannya yang cacat. Rasulullah saw kembali bertanya apakah ada yang bersedia menerima bangkai kambing tersebut secara cuma-cuma. Para sahabat tetap menolak. Kemudian Rasulullah saw bersabda bahwa dunia lebih rendah dan hina di sisi Allah daripada bangkai kambing tersebut. Banyak orang mencari dunia dengan cara tidak halal, mencaci maki orang lain, bertindak tidak adil, berperilaku tidak amanah, serta tidak menjaga lisan.
Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan menggunjing satu sama lain. Apakah ada yang suka memakan daging saudaranya yang telah mati. Tentu akan merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat tersebut menjelaskan bahaya menggunakan lisan secara keliru. Rasulullah saw mengingatkan umat Islam agar senantiasa menggunakan lisan dengan baik dan tidak membuka aib orang lain. Rasulullah saw juga bersabda bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Menjaga lisan bermakna mengendalikan ucapan dan menjaga adab dalam berbicara. Hal tersebut mencakup berkata dengan lemah lembut, menghindari pembicaraan yang tidak penting, tidak mengucapkan perkataan dusta, serta menahan ucapan yang mengandung unsur permusuhan, penghinaan, cacian, dan prasangka.
Rasulullah saw mengajarkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat karena ucapan yang sia-sia dapat mengurangi kualitas iman dan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Menjaga lisan dalam kebaikan dapat dilakukan dengan memperbanyak mengingat Allah, menjaga hubungan baik dengan sesama melalui silaturahmi, serta menghindari fitnah dan ghibah. Dengan memperbanyak zikir dan istigfar, seseorang dapat mengisi lisannya dengan hal-hal yang bermanfaat dan terhindar dari perkataan yang menimbulkan permusuhan dan kebencian antarsesama.
Begitu penting menjaga lisan sehingga Rasulullah saw memberikan jaminan surga bagi orang yang mampu mengendalikan lisannya dan menjaga kehormatan diri. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa barang siapa mampu menjaga apa yang berada di antara dua rahang dan dua kaki akan dijamin masuk surga.
Oleh karena itu, sebelum berbicara hendaknya memastikan bahwa perkataan yang akan diucapkan membawa manfaat. Jika tidak yakin, lebih baik diam karena ucapan yang telah terlanjur keluar dan menyakiti orang lain sulit untuk ditarik kembali. Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan agar berhati-hati dengan lisan karena lisan lebih tajam daripada mata pedang. Perkataan dapat melukai seseorang lebih dalam daripada luka fisik. Lisan yang tajam dapat menghancurkan hubungan, reputasi, bahkan keharmonisan masyarakat. Alangkah indah dan bijak apabila senantiasa menjaga lisan dalam setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan.