Ramadan
Trending

Menjadi Dewasa: Ketika Perasaan Tidak Lagi Meledak tetapi Mengendap

Oleh: Nur Aisyah, S.Pd.Gr Pengajar di SDIT Alam Cahaya Toboali

DALAM perjalanan hidup, setiap manusia pernah merasakan kemarahan, kekecewaan, atau kesedihan yang mendalam. Perasaan tersebut merupakan hal yang wajar karena manusia memiliki hati dan emosi. Namun terdapat perbedaan yang jelas antara sikap anak-anak dan sikap seseorang yang mulai beranjak dewasa dalam menghadapi perasaan.

Anak-anak biasanya langsung menangis ketika merasa kecewa. Anak-anak juga dapat langsung berteriak ketika marah. Perasaan yang muncul sering kali diluapkan secara spontan tanpa pertimbangan. Ketika seseorang mulai memasuki kedewasaan, proses belajar mengendalikan emosi mulai terbentuk. Perasaan tetap ada, tetapi cara menyikapinya menjadi lebih tenang dan lebih bijaksana.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 28).

Ayat tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga. Ketika hati merasakan kegelisahan, jalan terbaik bukan dengan melampiaskan emosi kepada orang lain. Jalan yang lebih baik adalah kembali mendekat kepada Allah. Melalui doa, zikir, dan kesabaran, hati perlahan menjadi lebih tenang dan tenteram.

Orang yang dewasa bukanlah orang yang tidak pernah merasakan kemarahan atau kesedihan. Perasaan tersebut tetap hadir sebagai bagian dari kehidupan manusia. Namun kedewasaan terlihat dari kemampuan memilih cara yang lebih baik dalam menyikapi emosi. Allah memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain.

“Dan orang-orang yang menahan amarah serta memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali Imran 134).

Kekuatan yang sesungguhnya tidak terletak pada kemampuan membalas kemarahan, melainkan pada kemampuan menahannya. Tidak mudah untuk tetap tenang ketika hati tersakiti. Tidak ringan untuk memaafkan ketika perasaan terluka. Namun pada keadaan seperti itulah nilai seorang hamba terlihat di hadapan Allah.

Kisah Nabi Ya’qub memberikan pelajaran yang sangat mendalam tentang kesabaran dan kedewasaan iman ketika harus berpisah dengan putra tercinta, Nabi Yusuf. Dalam keadaan penuh kesedihan, Nabi Ya’qub menyampaikan keluh kesah hanya kepada Allah.

1 2Laman berikutnya