Ramadan
Trending

Lebaran di Balik Layar HP Ketika Maaf Cuma Jadi Copy Paste

Oleh: Irfan Rahmi, A.Md Tenaga Kependidikan di SMA IT Cahaya

HARI Raya Idulfitri selalu diharapkan menjadi momen untuk kembali kepada kesucian hati, mempererat silaturahmi, serta saling memaafkan dengan tulus. Namun pada zaman yang serba digital seperti sekarang, kehangatan pertemuan dan ketulusan permintaan maaf sering kali tertutupi oleh kebiasaan berinteraksi melalui layar telepon genggam.

Ramadan tahun ini terasa sangat ramai. Di jalanan terlihat banyak orang sibuk mencari takjil menjelang waktu berbuka. Namun jika diperhatikan di dalam rumah atau tempat berkumpul, suasana sering terasa sepi. Banyak orang larut dalam dunia masing-masing melalui layar telepon genggam.

Selama berpuasa, manusia menahan lapar dan dahaga sejak subuh hingga magrib. Akan tetapi jari tangan seolah tidak pernah berhenti menggulir layar media sosial seperti TikTok, Instagram, atau membalas pesan percakapan. Tidak jarang seseorang lebih sibuk memamerkan menu berbuka puasa melalui fitur cerita media sosial daripada menikmati hidangan bersama orang di sekitarnya. Telepon genggam seakan tidak pernah diberi waktu istirahat, padahal tubuh dan pikiran membutuhkan ketenangan selama bulan suci.

Lebaran dan Drama Bersama Gawai

Ketika Idulfitri semakin dekat, telepon genggam biasanya dipenuhi berbagai pemberitahuan pesan. Sebagian besar berisi ucapan selamat Lebaran yang panjang dengan susunan kalimat indah. Namun banyak orang mengetahui bahwa pesan tersebut hanya hasil salinan yang disebarkan kembali kepada banyak orang.

Tidak jarang seseorang menerima pesan ucapan Idulfitri yang sangat indah, tetapi pengirimnya bahkan lupa mengganti nama pada bagian akhir pesan. Terkadang pesan yang sama juga dikirimkan ke berbagai kelompok percakapan dan pesan pribadi tanpa perubahan sedikit pun.

Keadaan tersebut membuat makna permintaan maaf terasa hambar. Permohonan maaf seharusnya lahir dari ketulusan hati, tetapi cara penyampaiannya justru terasa mekanis seperti dilakukan oleh mesin. Seseorang merasa telah menjalankan kewajiban bersilaturahmi hanya dengan menekan tombol teruskan, padahal tidak benar-benar memikirkan orang yang menerima pesan tersebut.

Keadaan lain yang sering terjadi berkaitan dengan penggunaan gawai pada saat pertemuan keluarga. Momen yang paling dinantikan ketika Idulfitri adalah berkumpul bersama keluarga besar, menikmati hidangan ketupat dan rendang, serta berbagi kebahagiaan.

Namun pada banyak kesempatan, keluarga memang duduk bersama dalam satu ruangan, tetapi hampir semua orang menundukkan kepala menatap layar telepon genggam.

1 2Laman berikutnya