Suara HebatBabelhebatBangka SelatanNasional-Internasional
Trending

Lapor Presiden: Pemkab Bangka Selatan Lupa Ada 53 Koperasi Merah Putih, Tapi Hanya 26 yang Diluncurkan

Ini bukan sekadar soal teknis. Ini soal siapa yang diberi kursi, dan siapa yang dibiarkan berdiri di luar ruangan saat sejarah dibuat.

Ironisnya, beberapa hari sebelum peluncuran, Wakil Bupati Debby Vita Dewi menerima penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi. Penghargaan itu diberikan atas klaim bahwa seluruh desa dan kelurahan di Bangka Selatan telah membentuk Koperasi Merah Putih. Bahkan disebut sebagai kabupaten tercepat kedua dalam pembentukan koperasi se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Baca Juga : Bangka Selatan Hebat, Raih Terbaik Kedua Nasional dalam Pembentukan Kopdeskel Merah Putih

Kalau benar sudah terbentuk 53 koperasi, mengapa hanya 26 yang tampil dalam peluncuran nasional? Untuk siapa sebenarnya penghargaan itu?

Pemkab Basel memang aktif sejak awal mendorong pendirian koperasi. Tapi dalam momen sepenting ini, satu hal mendasar tampaknya dilupakan. Jumlah koperasi yang terbentuk adalah 53, bukan 26. Lalu ke mana 27 koperasi lainnya? Mengapa tak diundang? Apakah mereka sekadar pelengkap laporan, atau pemanis demi memenuhi syarat administratif untuk penghargaan nasional?

Baca Juga : Koperasi Merah Putih, Senjata Baru Perangi Kemiskinan

Peluncuran seharusnya menjadi awal dari sebuah gerakan kolektif. Tapi jika sejak langkah pertama saja sudah timpang, bagaimana bisa berharap hasil akhirnya akan adil dan merata?

Presiden dan jajarannya perlu tahu, di ujung selatan Pulau Bangka tidak semua koperasi diberi kesempatan duduk dan berdiri di ruangan yang sama.

Kalau pemerintah benar-benar serius ingin membangun ekonomi desa lewat koperasi, maka semua koperasi harus diperlakukan setara. Tidak boleh ada yang dianggap anak emas, sementara yang lain diperlakukan sebagai anak tiri.

Jika hal seperti ini dibiarkan, program sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi moral di mata rakyat. Yang tersisa hanyalah tumpukan laporan administratif tanpa semangat dan kepercayaan. Koperasi tinggal nama. Bangka Selatan tinggal angka, tercepat kedua dalam pembentukan koperasi, tanpa isi.

Tulisan ini bukan keluhan. Ini pengingat. Bahwa semangat membangun dari desa hanya akan hidup jika dimulai dengan kesetaraan, transparansi, dan keadilan.

Dari awal yang benar, hasil yang benar lebih mungkin tumbuh. Dan perlu dicatat, peluncuran hanya dilakukan sekali. Tak pernah dua atau tiga kali. Jika nanti ada peluncuran susulan, itu bukan klarifikasi. Itu lelucon. Bahkan bisa dianggap penghinaan terhadap logika publik.

Salam berpikir

Laman sebelumnya 1 2

Tom Hebat

Berdiri di Atas Semua Golongan