Babelhebat
Trending

Kasus Penganiayaan Belum Terungkap, Suharmi & Keluarganya Malah Dapat Ancaman Teror

PASCA terjadinya peristiwa penganiayaan terhadap seorang Lanjut usia (Lansia) di Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Bangka Selatan (Basel), Provinsi Bangka Belitung (Babel) pada Senin (17/10/2022) pekan lalu, kini Lansia bersama keluarganya mengalami aksi teror.

Penganiayaan yang dialami korban Suharmi (62) diduga kuat dilakukan oleh Kepala Desa (Kades) Batu Betumpang, Taufik dengan disaksikan kepala dusun di desa setempat. Meliputi Kepala Dusun (Kadus) I Suwarli, Kadus II Hendri alias Ateng, Kadus III War dan Kadus IV Bujang.

Karena itu, hingga akhirnya sang kades tersebut harus berurusan dengan hukum atas dugaan tindak pidana penganiayaan seperti yang dilaporkan oleh korban ke Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Basel, Selasa (18/10).

Kali ini aksi teror yang dialami korban bersama keluarganya berupa lemparan batu dikediamannya pada Jum’at (28/10) dinihari. Namun, hingga kini belum juga terungkap siapa pelaku dibalik aksi teror tersebut. Padahal telah dilaporkan oleh korban secara resmi ke Pos Polisi Sektor (Pospol) Pulau Besar dan Polsek Payung.

Akibat dari aksi teror lemparan batu sehingga kaca bagian depan rumah korban mengalami pecah. Selain itu, korban bersama keluarganya mengalami trauma dan ketakutan, lantaran seumur hidupnya mereka tinggal di kampung halamannya baru kali ini mengalami penganiayaan dan teror.

Barang bukti (Barbuk) dari aksi teror tersebut berupa bongkahan batu dan pecahan kaca yang berhamburan.

“Seumur hidup kami menetap di Desa Batu Betumpang baru kali ini mengalami kejadian yang aneh. Pertama saya mengalami aksi penganiayaan dan kedua aksi teror lemparan batu terhadap kaca bagian depan rumah. Ini benar-benar aneh dan sangat aneh karena saya asli warga pribumi di desa ini bukan pendatang, tapi malah mendapat perlakuan yang tak sewajarnya,” keluh Suharmi.

Suharmi mengakui, bahwa seumur hidupnya tak pernah ada musuh dengan siapapun, termasuk dengan warga di desa setempat. Karenanya itu, peristiwa aksi teror yang dialaminya tersebut membuat heboh masyarakat desa setempat.

“Saya hanya pasrah dan berharap pelaku penganiayaan dan pelaku teror segera terungkap dan dihukum sesuai aturan hukum yang berlaku. Saya ini sudah tua, hidup bukan lagi untuk mencari keributan apalagi musuh. Kedamaian hati yang saya cari untuk mengisi masa tua bersama keluarga dan anak cucu,” kata Suharmi.

Dijelaskan Suharmi, peristiwa aksi penganiayaan dan teror yang dialaminya tersebut sudah dilaporkannya kepada pihak kepolisian (Pospol, Polsek hingga Polres). Namun, hingga kini belum terungkap siapa pelakunya bahkan terduga pelaku penganiayaan juga masih berlenggang bebas.

“Saya berdoa semoga terduga pelaku penganiayaan dan pelaku teror mendapat hidayah dan segera bertaubat. Karena kita hidup di dunia ini hanya lah sementara,” ujar Suharmi.

Sementara Agus anak kandung dari Suharmi membenarkan, bahwa rumah orang tuanya tersebut pada Jum’at dinihari lalu dilempar batu, yang diduga dilakukan oleh Orang Tak Dikenal (OTD).

“Anggota Polisi dari Pospol Pulau Besar sudah datang kerumah orang tua saya dan melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Apa yang dialami oleh orang tua saya sudah dilaporkan ke Polsek Payung dan juga Polres Basel, begitu juga dengan aksi penganiayaan beberapa waktu lalu,” jelas Agus.

Terpisah Kapolsek Payung Iptu Joniarto kepada wartawan menegaskan, bahwa masih mendalami atas dugaan aksi teror yang dialami korban Suharmi. Saat ini masih dalam tahap proses penyelidikan atas dugaan tersebut. Begitu juga dengan aksi dugaan penganiayaan yang dialami korban masih penyelidikan dan diupayakan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Mengingat dugaan tersebut Tindak pidana ringan (Tipiring).

“Semua laporan dari korban sudah kami tindaklanjuti. Korban tidak mau untuk berdamai dan kami sudah mengupayakan agar diselesaikan secara kekeluargaan,” jelas Iptu Joniarto.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa (Kades) Batu Betumpang, Taufik akhirnya harus berurusan dengan hukum atas dugaan tindak pidana penganiayaan berupa kekerasan fisik terhadap seorang warga Lanjut usia (Lansia).

Sang Kades tersebut dilaporkan oleh korban Suharmi (62) warga desa setempat ke Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Bangka Selatan (Basel), Selasa (18/10/2022).

Dugaan atas peristiwa itu terjadi Senin (17/10), pukul 10.30 WIB. Saat itu korban sedang mengendarai sepeda motor dengan membawa bibit sawit untuk ditanam kembali di lahan kebun miliknya. Tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai korban diberhentikan oleh raja kecil di desa setempat, yang tak lain adalah Kepala Desa (Kades) Batu Betumpang Taufik bersama Kepala Dusun (Kadus) I Suwarli alias Pat.

Lantaran diberhentikan sang raja. Lalu korban pun langsung menghentikan laju kendaraannya. Korban tak menyangka sama sekali bahwa sang raja tersebut akan melakukan kekerasan fisik terhadap dirinya berupa tamparan keras di bagian kepala hingga mencekik bagian lehernya.

Merasa tak terima dengan perlakuan sang raja. Lalu korban melaporkan atas peristiwa yang dialaminya tersebut ke Satreskrim Polres Basel, dengan harapan laporannya tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

“Sebelum menampar kepala dan mencekik leher saya. Taufik (Kades_red) sempat berkata ‘jangan ka tanam sawit di lahan itu’ (jangan kau tanam sawit di lahan itu_red). Lalu saya jawab ‘pokoknya saya ingin menanamnya’ (Pastinya saya ingin menanamnya_red),” jelas Suharmi didampingi istrinya Nurhayati (58) kepada wartawan, Selasa (18/10).

Dijelaskan Suharmi, perlakuan sang raja terhadap dirinya tersebut disaksikan oleh 4 kepala dusun di desa setempat. Meliputi Kepala Dusun (Kadus) I Suwarli, Kadus II Hendri alias Ateng, Kadus III War dan Kadus IV Bujang.

“Taufik menampar saya satu kali di bagian kepala. Lalu Taufik langsung mencekik leher saya dan kemudian menendang sepeda motor saya hingga akhirnya saya ikut terjatuh bersamaan dengan sepeda motor,” keluh Suharmi.

Senada juga diutarakan istrinya Nurhayati tidak menerima atas perlakuan sang raja (Kades) setempat terhadap suaminya tersebut.

“Saya tidak terima kepala suami saya ditampar dan lehernya dicekik oleh kades. Karena itu, saya ikut mendampingi suami saya melaporkan atas apa yang terjadi kepada pihak kepolisian, dengan harapan agar pihak kepolisian dapat menindaklanjutinya dan memprosesnya sesuai aturan hukum,” tegas Nurhayati.

Terpisah Kades Batu Betumpang Taufik saat dikonfirmasi babelhebat.com terkait hal tersebut belum bersedia untuk menanggapinya, dengan alasan bahwa masih sibuk.

“Maklum bang masih ada acara, masih sibuk. Maaf bukan nggak respon. Nanti kita di kabupaten (Toboali_red) ngopi bareng (Bersama),” ujar Taufik.

Tom Hebat

Berdiri di Atas Semua Golongan