Kantor Pelabuhan Sadai Bangka Selatan Kosong, Negara ke Mana?
JAM menunjukkan pukul 08.11 pagi. Matahari sudah tinggi. Tapi kantor Dinas Perhubungan di Pelabuhan Sadai, Bangka Selatan, masih tertutup rapat. Tak ada satu pun pegawai yang muncul. Tak ada tanda-tanda kehidupan birokrasi.
Di tempat seharusnya negara hadir, justru yang tampak hanya bangunan mati. Diam, dingin, dan kosong.
Bukan sekali dua kali. Ini bukan kebetulan. Ini pola. Pola pembiaran. Pola kelalaian yang dibiarkan menahun hingga menjadi kebiasaan.
Negara seolah tak peduli. Padahal ini pintu laut. Wilayah yang seharusnya dijaga ketat. Tapi justru dibiarkan lepas.
Baca Juga : Apa Kabar BUMD Bangka Selatan
Pintu-pintu kantor masih terkunci. Tak ada langkah kaki. Tak terdengar suara kerja. Yang ada hanya penumpang yang hilir mudik dan buruh pelabuhan yang menunggu bongkar muat. Sementara ruang kendali kosong dari kehadiran aparatur.
Miris. Sangat miris.
Bangunan yang dibiayai dari uang rakyat, yang seharusnya menjadi titik pengatur pergerakan transportasi laut, pagi itu hanya menampilkan pemandangan kosong tanpa arah.
Tak ada petugas berjaga. Tak ada informasi pelayanan. Tak ada wajah yang muncul dari balik jendela. Seolah semua memang dibiarkan seperti itu.
Apakah ini kelalaian biasa. Atau justru pola lama yang sudah dianggap wajar.
Tak tampak jadwal kerja. Tak ada sistem piket yang terlihat. Jika pun ada, tidak hadir pada waktu yang seharusnya. Kantor dibuka, tapi tanpa kehadiran.
Kenyataan ini menyentak. Bukan karena hal itu baru terjadi, tapi karena dibiarkan terus terjadi.



