Fenomena Sosial & Realitas Sosial Dalam Berdemokrasi, Merajut Kemesraan Antara Sikaya & Simiskin
* Nusation Anwar (Alumni STKS Bandung, Penyuluh Sosial)
MEMANG terasa empuk bicara kemiskinan seperti barang dagangan yang selalu booming dipasarkan. Andaikan kemiskinan menjadi produk, tentunya yang menjadi modelnya adalah simiskin. Sikaya kalau tidak jadi produser menjadi pengarah gaya atau sutradara. Skenario kisahnya berepisode panjang dengan durasi paling tidak lima tahunan. Tema kemiskinan diasumsikan cewek bertubuh seksi dan mempesona, daya pikatnya sangat menggoda. Mata-mata genit politikus begitu tajam membelah dan menerobos batas keniscayaannya. Sungguh indah drama kehidupan antara sikaya dan simiskin penuh sensasional dan menggemaskan.
DISISI lain, dengan “kemewahannya” simiskin selalu digoda, ditawar, ditukar, dielu-elukan bahkan digadai, dilelang terbuka, karena simiskin sangat menarik dan menawan untuk dimanjakan dan ditimang. Para calon pejabat, politisi bahkan hingga calon presiden pun terkesima dengan keelokannya. Sungguh, simiskin adalah pujaan semua orang berduit saat Pilkada, Pilwako dan Pileg.
BERBAGAI bentuk negosiasi dengan simiskin, seakan-akan simiskin sedang membagi-bagikan kekuasaannya kepada sikaya. Begitulah simiskin yang berbaik hati. Lalu, setelah itu episode pun beralih ke cerita yang menyeramkan dan memilukan. Simiskin terdampar dalam pelukan peluh dan debu, terperangkap dalam kegelisahan, terpojok dalam ketidakberdayaan, merintih diterik matahari, sesekali meronta mencari saudaranya (sikaya) yang sedang bermain ski air kalau tidak gantole. Simiskin pun masih tetap ikhlas menapaki tangga demi tangga mencari kawan lamanya yang sudah berada di pucuk tangga yang megah dan menjulang tinggi. Wajah simiskin hanya sekilas terlihat warna hitam dari jauh oleh sikaya. Ternyata, simiskin dan sikaya berada pada ‘dua dunia’ yang berbeda.
PADA suatu ketika (pasca pesta), simiskin menyesal karena telah menggadaikan sebagian harapannya dengan ijab kabul uang persekot atau down payment (DP) selembar sajadah dan selembar kain sarung atau juga sekantong minyak goreng, lima kilo beras dan sekilo gula pasir ditambah sepotong kaos beriklan. Pertunjukan ini, kemudian berlanjut, dengan semangat dan komitmen. Sikaya berubah menjadi penguasa (ekskutif/legislatif) yang punya kursi busa lembut bludru yang memiliki kuasa untuk mengatur, mengendalikan, memerintah, memberi, menggusur, menekan, memaksa, serta membela dan banyak lagi kewenangan lainnya. Sikaya merasa tidak salah karena sudah membeli separoh kekuasaan simiskin dengan harga nego dan sangat murah lagi. Kali ini sikaya membuka agenda usangnya, menelisik laporan keuangan politiknya berikut daftar nama-nama teman baiknya yang dianggap sudah berhasil mengantarnya. Namun, sayang tidak ada lagi lembaran kosong buat simiskin, yang tersisa kenangan manis tak bereja.
GAMBARAN diatas, hanya sekelumit cerita warung kopi campur jahe merah dan gula kabung. Kita melihat sebuah fenomena sosial sekaligus realitas sosial politis yang sering dipamerkan oleh anak bangsa ini. Sebagian orang berkantong tebal disaat ingin menampilkan diri dalam arena perebutan ‘kekuasaan’ terlebih dalam waktu menjelang Pilkada dan Pileg. Sulit untuk dihindari bagi petarung-petarung politik di negeri ini dengan hanya membawa nama besar, intelektualitas, kharisma dan lain-lain tanpa harus merogoh isi dompet yang tidak sedikit berharap menang. Karena pola demokrasi kita ‘wajib’ bayar dimuka alias bayar ditempat, urusan ke depan bodohi massa atau masa bodoh!!. Namun, simiskin tanpa malu dengan lantang berkata “Along makan kini daripada kelak lum tentu dapet”. Kedengarannya ironis, tapi begitulah realita sosio kultural masyarakat di akar rumput.