Sementara itu, Peneliti Nuklir dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta Dr Andang Widi Harto mengatakan, di Bangka Belitung sendiri memiliki cadangan sebesar 100.000 ton dari data Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) di Bangka Belitung dari hasil limbah olahan timah.
“Bangka Belitung disitu timah sebagai logam utama, timah itu masuk dalam kategori golongan B sehingga didalamnya ada LTJ yang termasuk thorium,” kata Andang saat dijumpai di Thorium Room Universitas Gajah Mada pada Selasa, 22 Februari 2022.
Thorium jauh lebih efisien dan lebih aman, karena limbahnya sedikit dan umurnya lebih pendek. Limbah dari Molten Salt Reactor bisa diekstrak lagi yang bisa menghasilkan cesium, neutronsium, dan moliden.
“Setiap 1000 MegaWatt (Mw) listrik kita hanya membutuhkan 1 ton thorium yang menjadi 1 ton uranium-233 dan 1 ton limbah,” kata Andang.
Saat ini Indonesia mempunyai sebesar 60 GigaWatt (Gw), untuk 2050 kebutuhan listrik Indonesia bisa meningkat sekitar 400-500 Gw.
“Pada 2050, 100 PLTN itu bisa mencukupi 25 persen PLTN, kalau 200 PLTN bisa mencukupi 50 persen,” ucap Andang.
Indonesia saat ini sedang mempersiapkan reaktor thorium untuk digunakan sebagai PLTN, perusahaan yang mendukung Indonesia adalah Thorcon Power yang akan membangun prototype Molten Salt Reactor.
“Ada perusahaan Thorcon yang akan membangun prototype Molten Salt Reactor, tapi masih gabungan 50 persen uranium dan 50 persen thorium. Mudah-mudahan ini bisa menjadi sebuah kemajuan, desain ini juga akan dikembangkan lebih lanjut agar bisa menggunakan 100 persen thorium,” kata Andang.