Berserah Diri Kepada Allah
Oleh: Izzati Zahidah, S.Pd Pengajar di SDIT Alam Cahaya Toboali

SETIAP manusia menjalani kehidupan dengan harapan, rencana, dan usaha yang terus diupayakan. Namun tidak semua hal berjalan sesuai dengan kehendak manusia. Dalam keadaan seperti itulah manusia belajar memahami makna ketundukan dan penyerahan diri kepada kehendak Allah. Sikap ini bukan sekadar menerima keadaan, melainkan bentuk keyakinan bahwa segala ketentuan Allah selalu mengandung hikmah bagi kehidupan.
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan berbuat kebaikan, maka sungguh telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Hanya kepada Allah segala urusan kembali.” (Q.S. Luqman 22).
Berserah diri merupakan sikap menyerahkan seluruh jiwa kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa Allah Yang Maha Suci dan Maha Mengatur akan memilihkan yang terbaik bagi manusia. Berserah diri bukan berarti mengabaikan usaha, melainkan tetap berikhtiar dengan segenap kemampuan yang dimiliki.
Gambaran orang yang berserah diri seperti seseorang yang menggantungkan hati kepada Arasy Tuhan sementara kaki tetap berpijak di bumi. Orang yang berserah diri menerima setiap ketentuan, baik berupa nikmat maupun musibah, dengan hati yang ikhlas. Keyakinan tertanam bahwa Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan menzalimi hamba-Nya.
Untuk mencapai sikap berserah diri diperlukan sikap mental yang positif. Dasar utama sikap tersebut adalah berprasangka baik kepada Allah. Setiap ketentuan yang ditetapkan diyakini sebagai pilihan terbaik, sejalan dengan doa yang selalu dipanjatkan dalam setiap salat ketika memohon petunjuk menuju jalan yang lurus.
Agar mampu menjaga prasangka baik kepada Allah, renungan sederhana dapat dijadikan pelajaran. Seorang pemilik kebun yang ahli dalam bidang pertanian sering memangkas cabang atau dahan pohon agar kelak pohon tersebut menghasilkan buah yang lebih banyak. Apabila pohon dapat merasakan, tindakan tersebut mungkin dianggap sebagai penyiksaan. Padahal tujuan dari pemangkasan tersebut justru untuk kebaikan pohon.
Perumpamaan lain dapat dilihat dari seorang ibu yang sangat mencintai anak. Demi menjaga kesehatan anak, seorang ibu melarang anak mengonsumsi makanan tertentu yang dapat membahayakan. Padahal makanan tersebut sangat disukai oleh anak.
Demikian pula dengan ketentuan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Terkadang Allah memberikan bencana karena melalui peristiwa tersebut manusia dapat mengambil pelajaran. Allah juga melarang manusia mengikuti hawa nafsu semata demi menjaga kebaikan manusia itu sendiri.
Bagi orang yang tidak memahami sifat-sifat Allah, keadaan seperti itu dapat menimbulkan prasangka buruk. Sebaliknya, orang yang memahami hikmah ketentuan Allah akan menerima dengan hati yang lapang. Setiap ketetapan diyakini sebagai keputusan terbaik bagi kehidupan.
Dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad, Rasulullah saw bersabda:
“Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah Allah menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin melainkan hal itu baik baginya. Keadaan tersebut hanya berlaku bagi seorang mukmin.”
Orang yang berserah diri tidak akan mengeluh atau memprotes ketentuan Allah. Setiap perbuatan dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada perintah-Nya. Kebaikan yang dilakukan bukan sekadar balasan atas kebaikan manusia lain, melainkan semata-mata karena Allah memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan.
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (Q.S. At-Talaq 3).
Kunci untuk mampu berserah diri kepada Allah adalah menjaga prasangka baik kepada-Nya. Manusia diperintahkan untuk berusaha dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Hasil yang diperoleh dari usaha tersebut diyakini sebagai ketentuan terbaik sesuai kebutuhan manusia pada saat itu.
Musibah yang datang bukan semata-mata untuk ditangisi. Peristiwa tersebut dapat menjadi peringatan agar manusia melakukan introspeksi diri, memperbaiki kesalahan, dan kembali kepada jalan yang benar. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa sebagian musibah terjadi akibat kesalahan manusia sendiri.
Kesadaran inilah yang akan menumbuhkan ketenangan hati. Ketika usaha telah dilakukan dengan sungguh-sungguh dan hasilnya diserahkan kepada Allah, maka hati akan belajar menerima setiap ketentuan dengan lapang dan penuh keimanan.
Wallahu a‘lam.