Ramadan
Trending

Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah

* Kisah Si Pembunuh 99 Nyawa yang Ingin Bertaubat

SETIAP dosa sebesar apa pun tidak pernah melampaui luasnya rahmat Allah. Selama napas masih berembus dan penyesalan hadir dalam hati, jalan kembali kepada-Nya tetap terbuka.

Jauh sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang lelaki yang sangat buruk catatan kejahatannya. Lelaki tersebut telah membunuh sembilan puluh sembilan orang tanpa alasan yang benar. Pada suatu waktu, muncul penyesalan dalam hatinya dan tumbuh keinginan untuk bertaubat. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Apakah masih ada kesempatan untuk kembali ke jalan kebaikan setelah dosa sebesar itu. Orang-orang di sekitarnya menyarankan agar menemui seorang rahib untuk menanyakan hal tersebut.

Setibanya di kediaman sang rahib, lelaki itu menyampaikan kegundahan hati serta keinginannya untuk bertaubat. Sang rahib menanyakan kesalahan yang telah dilakukan. Dengan jujur, lelaki tersebut mengakui telah membunuh sembilan puluh sembilan orang tanpa alasan yang benar.

Mendengar pengakuan tersebut, sang rahib terkejut dan menyatakan bahwa tidak ada jalan baginya. Rahib itu menyampaikan bahwa tempat yang pantas baginya adalah neraka.

Ucapan tersebut membuat lelaki itu sangat kecewa sekaligus marah. Kesadaran tentang besarnya dosa memang mulai tumbuh, tetapi sikap sang rahib yang memvonis tanpa memberi harapan melukai perasaannya. Walaupun keinginan untuk bertaubat telah muncul, sifat jahat dalam dirinya belum sepenuhnya hilang. Tanpa banyak bicara, lelaki itu membunuh sang rahib. Dengan demikian genap sudah seratus nyawa melayang di tangannya. Meskipun demikian, dorongan untuk bertaubat terus mengusik batinnya dan dirinya tetap mencari jalan keluar.

Beberapa waktu kemudian, seseorang menyarankan agar menemui seorang alim di daerah lain. Lelaki itu segera berangkat dan menemui orang alim tersebut. Kepada orang alim itu seluruh perjalanan hidupnya diceritakan, termasuk pembunuhan yang telah mencapai seratus orang serta keinginan untuk bertaubat. Orang alim yang bijak tersebut menyampaikan bahwa pintu taubat tetap terbuka dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi niatnya untuk kembali kepada Allah. Lelaki itu dinasihati agar meninggalkan kampung halamannya karena tempat tersebut dipenuhi kemaksiatan. Dirinya diminta pergi ke suatu kota yang penduduknya gemar beribadah kepada Allah dan bergabung bersama mereka, serta tidak kembali lagi ke lingkungan lamanya. Dengan izin Allah, jalan menuju ampunan akan dimudahkan.

Lelaki itu segera berangkat menuju kota yang dimaksud. Namun di tengah perjalanan ajal menjemputnya. Datang dua malaikat untuk menjemput ruhnya, Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Keduanya saling berpendapat tentang siapa yang berhak membawa ruh lelaki tersebut. Malaikat Rahmat menyatakan bahwa lelaki itu telah berangkat menuju Allah dengan niat yang tulus. Malaikat Azab berpendapat bahwa lelaki tersebut belum pernah melakukan kebaikan dan justru dipenuhi kejahatan.

Perdebatan berlangsung hingga Allah mengutus malaikat ketiga dalam wujud manusia untuk menjadi penengah. Malaikat tersebut memutuskan agar jarak antara dua kota diukur dari tempat wafatnya lelaki itu. Kota yang jaraknya lebih dekat akan menentukan golongannya.

Setelah dilakukan pengukuran, ternyata kota tujuan yang penuh kebaikan lebih dekat sejengkal dibandingkan kota maksiat yang telah ditinggalkan. Dengan demikian ruhnya dibawa oleh Malaikat Rahmat dan lelaki itu memperoleh ampunan Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebenarnya jarak lelaki tersebut dari kota maksiat masih lebih dekat. Namun Allah berkehendak mengampuninya. Tempat kematian tersebut didekatkan kepada kota kebaikan dan dijauhkan dari kota maksiat sehingga selisihnya hanya sejengkal tangan. Rahmat Allah mendahului segala dosa dan lelaki itu termasuk dalam golongan yang diampuni.

Penulis: Muhammad Aldi Yahya
Pengajar Al-Qur’an di SDIT Alam Cahaya Toboali