
Sunnah di Bulan Ramadan, Bagian II
PADA tulisan sebelumnya telah disampaikan 20 sunnah di bulan Ramadan yang penulis nukil dari kitab ‘Ithaful Ikhwan’ tulisan Syaikh Muhammad Yasin Al Fadani. Baca Juga : Sunnah di Bulan Ramadan, Bagian I
Ditulisan ini, Insyaallah akan disampaikan kelanjutannya berupa 20 sunnah lainnya. Masih dari kitab yang sama. Mari kita simak bersama, semoga ada manfaatnya.
21. Mencari-cari dan memperhatikan orang yang membutuhkan Rasulullah SAW mensifati bulan Ramadan dengan Syahr Muwasah, bulan untuk saling membantu sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya.
Mencari-cari dan memperhatikan fakir miskin dan memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan orang yang membutuhkan adalah ketaatan yang paling utama dan kebaikan yang paling indah. Bahkan di dalam hadis dikatakan : Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah kebahagiaan yang engkau masukan ke dalam hati seorang muslim, atau engkau menyingkirkan darinya kesusahannya, atau engkau mengusir rasa lapar darinya, atau engkau melunasi hutangnya. (HR Thabrani).
22. Bagi lelaki disunahkan beritikaf di masjid
Kesunahan itikaf baik di siang atau malam Ramadan lebih ditekankan. Termasuk petunjuk Nabi Muhammad SAW adalah bahwa beliau beri’tikaf dan menganjurkan untuk melaksanakannya. Sahabat Anas RA mengatakan bahwa ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda : Siapa yang beri’tikaf sehari karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan menjadikan tiga parit yang menghalanginya dari neraka. Setiap parit lebarnya melebihi dua ufuk langit. (HR Thabrani dalam Ausath, Al Baihaqi, dan Hakim beliau mengatakan Isnadnya Shahih).
Para ulama mengatakan kesunahan itikaf di sepuluh malam terakhir dari Ramadan lebih ditekankan dan lebih utama untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dan mencari malam Lailatul Qadar.
23. Meninggalkan perdebatan, perselisihan dan saling caci.
Meninggalkan semua itu disunahkan di setiap saat, tapi di saat berpuasa kesunahannya menjadi lebih kuat. Di dalam hadis dikatakan : Puasa adalah benteng. Jika salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kasar, jangan pula berbuat bodoh. Jika ada seorang yang berselisih dengannya atau mencelanya katakanlah “Aku tengah berpuasa” dua kali. (HR Bukhari-Muslim).
Dalam hadis lain dikatakan : Puasa itu bukanlah sekadar dari makan dan minum, melainkan dari ucapan sia-sia dan ucapan kotor. (HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban). Para ulama berkata : Seyogyanya bagi seorang muslim untuk meninggalkan ucapan mubah yang tidak berfaidah dan tidak bermanfaat bagi agama dan dunianya, hendaknya ia menyibukkan lisannya dengan zikir dan istighfar.
24. Meninggalkan perbuatan yang tidak berguna.
Sebagaimana dianjurkan meninggalkan ucapan yang tidak berfaidah walaupun mubah, begitupula dianjurkan meninggalkan perbuatan mubah yang tidak bermanfaat dan tidak ada kebaikan di dalamnya. Nabi Muhammad SAW bersabda : Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak peduli ia. (HR Bukhari, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).
25. Meninggalkan berbekam dan cantuk.
Ini karena bekam dan cantuk dapat membuat lemas orang yang berpuasa. Sahabat Anas RA pernah ditanya, “Apakah kalian tidak menyukai berbekam bagi orang puasa?” Beliau menjawab : “Tidak, kecuali bahwa itu dapat menyebabkan lemah”. (HR Bukhari). Termasuk hal itu adalah pengambilan darah (donor) dikatakan itu akan melemaskan orang yang berpuasa. meningalkan makanan dan minumannya. (HR Bukhari).
26. Segera mandi junub sebelum subuh.
Disunahkan bagi yang akan berpuasa agar segera mandi junub sebelum masuk waktu subuh. Ini adalah sunnah bukan wajib untuk keluar dari khilaf ulama yang mengatakan bahwa puasa batal karena junub dengan dalil hadis Nabi Muhammad SAW : Siapa yang datang waktu fajar dalam keadaan junub maka tidak ada puasa baginya. (HR Bukhari-Muslim).
Hadis ini hukumnya telah dihapus. Dalil bolehnya mengakhirkan mandi junub setelah masuk waktu subuh adalah hadis Sayidah Aisyah dan Ummu Salamah RA, keduanya berkata : Pernah Nabi Muhammad SAW berpagi hari dalam keadaan junub karena bersetubuh bukan karena mimpi di bulan Ramadan kemudian beliau berpuasa. (HR Bukhari-Muslim).
27. Tidak berlebihan dalam makan dan minum.
Hendaknya orang yang berpuasa memperhatikan kesederhanaan dalam berbuka dan makan sahur jangan sampai terlalu kenyang. Sebab maksud dari puasa adalah agar kita dapat menahan syahwat terhadap makanan, minuman dan lainnya.
28. Berumrah di bulan Ramadan jika mampu
Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : Umrah di bulan Ramadan sebanding dengan haji, dalam riwayat lain : sebanding dengan haji bersamaku. (HR Bukhari).
Renungkan bagaimana umrah yang perbuatannya sangat mudah dan sedikit dapat sebanding dengan haji yang hanya sebagian saja yang mampu. Terlebih bahwa di dalamnya terdapat anjuran yang agung dengan disebutkan sebanding dengan haji bersama Rasulullah SAW.
29. Disunahkan berusaha untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar.
Dalam hadis dikatakan : Carilah malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari Ramadan. (HR Bukhari- Muslim). Mencarinya dengan cara bersemangat memakmurkan sepuluh malam itu dengan ibadah dengan memperhatikan Salat Tarawih di masjid sampai selesai, dan juga dengan melaksanakan Salat Isya dan Subuh secara berjamaah disertai melazimi zikir-zikir, doa-doa dan tilawah Al-Qur’an. Jika ia melakukan itu setiap malamnya pasti ia mendapatkan malam Lailatul Qadar.
30. Disunahkan memperbanyak doa di bulan Ramadan secara umum, dan di sepuluh hari terakhir secara khusus.
Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah doa-doa yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Sayidah Aisyah RA untuk diperbanyak di malam Lailatul Qadar. Maka perbanyaklah doa ini terutama di sepuluh malam terakhir Ramadan.
اللهم إنك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf maka maafkanlah kami”. (HR Tirmidzi).




