
Orang Tua sebagai Cerminan Anak dalam Berpuasa
Oleh: Apri, S.Pd Pengajar di SDIT Alam Cahaya Toboali
SETIAP anak lahir dalam keadaan suci dan tumbuh melalui proses meniru serta belajar dari lingkungan terdekatnya. Keluarga menjadi madrasah pertama yang membentuk karakter dan kebiasaan. Dalam suasana Ramadan, peran orang tua semakin menentukan arah pembelajaran nilai-nilai ibadah bagi anak.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa merupakan latihan kesabaran, kejujuran, pengendalian diri, serta peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam proses pembelajaran ibadah puasa, orang tua memiliki peran yang sangat penting. Orang tua menjadi cerminan bagi anak-anaknya. Apa yang dilakukan orang tua akan ditiru, dicontoh, bahkan menjadi kebiasaan bagi anak.
Sejak kecil, anak belajar dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Anak meniru cara berbicara, bersikap, hingga beribadah. Ketika orang tua melaksanakan puasa dengan penuh semangat, menjaga ucapan, memperbanyak ibadah, serta menunjukkan kesabaran, anak akan melihat dan mencontoh perilaku tersebut.
Sebaliknya, apabila orang tua sering mengeluh saat berpuasa, mudah marah, atau tidak menjaga sikap, anak dapat menganggap puasa hanya sebatas menahan lapar tanpa memahami nilai yang terkandung di dalamnya.
Berpuasa mengajarkan pengendalian diri. Orang tua yang mampu menahan emosi, tetap lembut dalam berbicara, serta memperlakukan anggota keluarga dengan penuh kasih sayang sedang memberikan pelajaran berharga kepada anak. Keteladanan seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan sekadar nasihat.
Misalnya dengan mengajak anak sahur bersama dalam suasana yang menyenangkan. Dapat pula membimbing anak berdoa sebelum berbuka. Orang tua juga dapat mengajak anak berbagi makanan kepada tetangga atau kepada yang membutuhkan. Selain itu, membiasakan salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an bersama akan membentuk pengalaman spiritual yang indah bagi anak.





