
Menunggu Azan Magrib
Oleh: Nur Annisaa, S.Pd., Gr Pengajar di SDIT Alam Cahaya Toboali
RAMADAN selalu menghadirkan jeda yang bermakna di tengah kesibukan. Setiap hari ada satu momen sederhana yang selalu dinantikan, menunggu azan magrib.
Ramadan selalu memiliki momen yang sama setiap harinya, yaitu menunggu azan magrib. Entah mengapa, waktu menjelang berbuka terasa berjalan lebih lama dari biasanya. Padahal jika melihat jam, pergerakannya tetap sama seperti hari lain. Jarum jam terus bergerak sebagaimana mestinya. Namun perasaan sering bertanya mengapa terasa begitu lama.
Perasaan seperti ini mungkin pernah dirasakan hampir semua orang yang sedang berpuasa, terutama ketika waktu telah mendekati sore. Perut mulai terasa kosong, tenggorokan terasa kering, dan pikiran membayangkan berbagai macam makanan. Jam seolah menjadi benda yang paling sering diperhatikan.
Keadaan seperti ini juga kerap terlihat pada anak-anak, terutama anak-anak yang sedang belajar berpuasa. Mereka memiliki cara tersendiri untuk menunggu waktu berbuka. Ada yang berkali-kali melihat jam. Ada yang bertanya kepada orang di sekitarnya tentang waktu saat itu. Setelah diberi jawaban, biasanya mereka mengangguk. Namun beberapa menit kemudian, pertanyaan yang sama kembali muncul apakah masih lama.
Ada anak yang sudah duduk di dekat meja makan sejak sore. Ada yang bolak-balik membuka dan menutup tudung saji di dapur. Ada pula yang mondar-mandir di sekitar rumah seperti sedang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Bagi mereka, menunggu azan magrib terasa sangat panjang. Namun justru pada momen seperti itu tersimpan pelajaran penting. Puasa memang identik dengan menahan lapar dan haus. Itu yang paling terasa secara fisik. Akan tetapi, ada hal lain yang tidak kalah penting, belajar menunggu.
Menunggu merupakan sesuatu yang semakin jarang dilakukan dengan kesabaran. Saat ini hampir semua hal dapat dilakukan dengan cepat. Ketika lapar, makanan dapat dipesan melalui aplikasi tanpa harus menunggu lama. Ketika ingin hiburan, telepon genggam dapat langsung digunakan. Video, musik, dan berita tersedia dalam hitungan detik.
Kehidupan berjalan serba cepat. Karena itu, kebiasaan untuk mendapatkan sesuatu dengan segera semakin menguat. Bahkan rasa tidak sabar sering muncul ketika harus menunggu lebih lama dari yang diinginkan.
Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda. Pada bulan ini ritme hidup terasa melambat. Makan dan minum tidak dapat dilakukan sesuka hati. Semuanya harus menunggu sampai waktu yang telah ditentukan tiba. Tidak dapat dipercepat. Sejak pagi hingga sore, aktivitas tetap berjalan seperti biasa, bekerja, belajar, dan menjalankan kewajiban. Namun di dalam diri ada kesadaran yang sama bahwa semua keinginan harus ditahan sampai azan magrib berkumandang.
Menariknya, karena menunggu cukup lama, hal-hal sederhana justru terasa lebih nikmat. Segelas air putih terasa sangat menyegarkan, bahkan mungkin lebih nikmat daripada minuman mahal pada hari biasa. Kurma yang sederhana terasa sangat manis. Bukan karena makanannya yang berubah, melainkan karena proses menunggu membuat rasa syukur semakin tumbuh. Menunggu membuat seseorang lebih menghargai.
Hal ini terlihat jelas pada anak-anak. Mereka biasanya tidak pandai menyembunyikan perasaan. Ketika lapar, mereka mengaku lapar. Ketika haus, mereka mengatakan haus. Saat azan magrib akhirnya terdengar, reaksi yang muncul sering kali spontan.
Wajah yang sebelumnya tampak lelah mendadak berubah cerah. Ada yang langsung tersenyum. Ada yang segera mengambil air minum. Ada pula yang berseru penuh semangat karena waktu berbuka akhirnya tiba. Seolah-olah sebuah tugas besar baru saja diselesaikan. Padahal yang dilakukan hanya satu hal, menunggu sampai waktu berbuka datang. Namun ternyata menunggu bukan perkara sederhana.
Menunggu memang tidak mudah, apalagi jika yang dinantikan adalah sesuatu yang sangat diinginkan.
Setiap tahun Ramadan mengingatkan kembali tentang hal ini. Menahan diri dan menunggu menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Tidak semua hal harus diperoleh dengan segera. Terkadang sesuatu justru terasa lebih berarti setelah melalui penantian. Karena itu, momen berbuka puasa sering terasa istimewa. Bukan semata-mata karena hidangan yang tersedia, melainkan karena perjalanan seharian yang telah dilalui. Ada rasa lega, ada rasa syukur, dan ada kebahagiaan karena waktu yang dinantikan benar-benar datang.
Menunggu azan magrib mungkin tampak sederhana dan sering dianggap biasa. Namun di dalam kesederhanaan itu tersimpan pelajaran yang mendalam. Ramadan tidak selalu mengajarkan makna melalui peristiwa besar. Pelajaran sering hadir melalui hal yang sederhana, dari rasa lapar, dari rasa haus, dan dari beberapa menit yang terasa panjang saat menunggu azan magrib. Hal kecil yang mungkin luput dari perhatian, tetapi selalu kembali dihadirkan setiap tahun.





