
Jangan Menunda Amal Kebaikan
Oleh: Yurika Dwi Ratna, S.Pd. Pengajar di TKIT Cahaya Toboali
SETIAP detik kehidupan adalah kesempatan yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama. Waktu yang berlalu tidak dapat dipanggil kembali, sedangkan amal kebaikan selalu menunggu untuk segera diwujudkan. Karena itu, menunda kebaikan sama dengan menyia-nyiakan peluang berharga yang mungkin tidak hadir untuk kedua kalinya.
Fastabiqul khairat yang berarti berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan perintah Allah Swt. agar umat muslim bersegera beramal saleh tanpa menunda. Menunda amal kebaikan atau dalam istilah agama sering disebut at-taswif yang berarti berkata nanti atau akan adalah sikap mengulur waktu untuk melakukan perbuatan positif, ibadah, atau kewajiban yang seharusnya dapat segera dilaksanakan. Sikap tersebut mencerminkan kebiasaan merencanakan kebaikan pada masa depan tanpa benar-benar melaksanakannya pada saat ini. Taswif menjadi salah satu senjata halus iblis untuk menghalangi manusia meraih keberkahan.
Dengan menunda, seseorang memberi ruang bagi rasa malas untuk tumbuh dan membiarkan niat baik memudar. Selain menghilangkan keberkahan waktu, menunda kewajiban seperti membayar utang atau menunaikan zakat dapat termasuk perbuatan zalim dan berdosa. Kebiasaan tersebut juga berpotensi merusak sifat istiqamah dalam beribadah. Contoh sederhana menunda amal kebaikan antara lain menunda salat pada awal waktu karena asyik bermain telepon seluler, berniat bersedekah ketika sudah kaya padahal saat ini telah memiliki kelapangan meskipun sedikit, serta menunda tobat dengan alasan masih muda dan merasa kematian masih jauh.
Siapa pun dapat terjebak dalam kebiasaan menunda kebaikan. Pertama, terlalu percaya diri terhadap usia sehingga merasa masa depan masih panjang dan menunda tobat atau ibadah dengan alasan akan dilakukan ketika sudah tua. Kedua, memiliki motivasi yang lemah sehingga niat berbuat baik mudah redup sebelum terlaksana. Ketiga, terlena oleh kesibukan dunia dan terlalu fokus pada pekerjaan atau hiburan sehingga amal kebaikan ditempatkan sebagai prioritas terakhir. Keempat, memiliki sifat munafik dengan kebiasaan menunda salat hingga hampir habis waktunya.
Seseorang yang menunda amal kebaikan sesungguhnya berada dalam zona nyaman yang semu. Kondisi hidup yang terasa aman, sehat, dan berkecukupan menumbuhkan anggapan bahwa kebaikan dapat dilakukan kapan saja. Kebiasaan berkata nanti atau akan hanyalah ruang tunggu tanpa kepastian. Niat baik telah hadir dalam hati, tetapi berbagai alasan seperti merasa belum siap, takut rugi, atau malu justru menghambat pelaksanaannya. Sikap tersebut berisiko tinggi karena berdiri di atas ketidakpastian usia dan kesehatan.
Meninggalkan amal kebaikan atau berhenti melakukannya umumnya terjadi dalam beberapa keadaan. Pertama, penundaan yang berlangsung terus-menerus hingga momentum, niat, dan kesempatan hilang. Kedua, datangnya penghalang seperti uzur syar’i atau musibah. Sakit dapat membuat fisik tidak lagi mampu beramal sebagaimana biasanya, misalnya berpuasa atau melaksanakan salat sambil berdiri. Masa tua pun menyebabkan kekuatan tubuh menurun drastis. Kematian menjadi batas akhir ketika pintu amal tertutup rapat.
Keadaan ketiga adalah munculnya penyakit hati. Iman dapat melemah sehingga timbul rasa jenuh atau malas setelah sebelumnya rajin beribadah. Perasaan putus asa karena menganggap dosa terlalu besar juga dapat menghentikan langkah berbuat baik. Sifat sombong dan riya membuat seseorang merasa amalnya sudah cukup sehingga enggan menambah atau memperbaiki kualitas amal.
Tidak seorang pun mengetahui apakah esok hari masih diberi kesehatan dan umur panjang untuk beramal. Kesibukan mengejar harta, jabatan, dan kesenangan sesaat sering menyita waktu serta pikiran sehingga amal kebaikan dianggap sebagai beban yang menghambat produktivitas duniawi. Akibatnya, kebaikan perlahan ditinggalkan.
Lingkungan yang tidak peduli terhadap amal kebaikan juga dapat melemahkan motivasi batin. Rasa puas diri karena merasa telah memiliki banyak pahala melahirkan kesombongan dan membuat seseorang enggan melakukan kebaikan baru.
Agar tidak terbiasa menunda amal kebaikan, dahulukan kewajiban yang waktunya terbatas seperti salat sebelum melakukan aktivitas duniawi. Bangun lingkungan yang positif dengan berteman bersama orang-orang yang produktif dan gemar berbagi karena semangat kebaikan akan saling menguatkan. Rasa malas harus dilawan dengan keteguhan, bukan diikuti. Jangan biarkan kata nanti merampas kesempatan untuk menabung pahala. Kebaikan yang disegerakan tidak hanya mendatangkan keberkahan bagi penerimanya, tetapi juga menghadirkan ketenangan jiwa bagi pelakunya.
Jangan pernah lelah berbuat baik karena setiap perbuatan kecil akan dicatat dan kebaikan tersebut akan kembali dalam bentuk yang berlipat ganda.
Jangan menunggu hari esok karena tidak ada jaminan hidup sampai esok hari. Lakukan kebaikan yang dapat dikerjakan saat ini juga.





