
Buka Puasa Itu Indah Asal Jangan Kalap
Oleh: Huswatun Hasanah, S.Pd. Pengajar di Pondok Pesantren Qur'an Cahaya Toboali
RAMADAN selalu menghadirkan keindahan yang dinanti setiap muslim. Salah satu momen paling istimewa adalah detik-detik menjelang berbuka puasa ketika rasa lapar bertemu dengan harapan dan syukur.
Ada satu momen yang paling ditunggu saat Ramadan, yaitu menjelang waktu magrib. Lima menit terasa seperti lima jam. Notifikasi grup keluarga mulai ramai, status WhatsApp dipenuhi foto takjil, dan pikiran dipenuhi bayangan hidangan yang akan disantap. Namun, sering kali keindahan itu berubah menjadi sikap berlebihan. Semua yang terlihat terasa ingin dibeli, mulai dari es teler, gorengan, kolak, cendol, pentol bakso, mi ayam, bakso, martabak, hingga pempek.
Seolah-olah perut memiliki ruang kosong yang siap diisi tanpa batas. Padahal, kenyataannya tiga suap pertama sudah cukup mengenyangkan. Ketika lapar, keinginan sering kali lebih besar daripada kebutuhan. Kalap saat berbuka bukan hanya persoalan makanan yang berlebihan, tetapi juga kehilangan makna. Ramadan mengajarkan pengendalian diri selama berjam-jam. Akan terasa ironis jika latihan menahan diri tersebut justru hilang saat waktu berbuka tiba.
Rasulullah saw. menganjurkan berbuka dengan makanan sederhana terlebih dahulu seperti kurma dan air, kemudian melaksanakan salat, lalu makan secukupnya. Terdapat jeda yang mengajarkan ketenangan. Jeda untuk memberi tubuh waktu menyesuaikan diri dan memberi hati kesempatan untuk bersyukur. Buka puasa yang indah adalah ketika kesadaran tetap terjaga.
Makan secukupnya, menikmati secara perlahan, dan tidak berlebihan merupakan sikap yang sejalan dengan tujuan puasa. Puasa bukan memindahkan jatah makan siang ke waktu magrib, melainkan melatih keseimbangan. Ramadan bukan tentang menahan lapar lalu melampiaskannya, tetapi tentang belajar merasa cukup. Cukup dalam makan, cukup dalam keinginan, dan cukup dalam segala hal.
Oleh karena itu, nikmatilah momen berbuka dengan penuh syukur. Keindahan buka puasa tidak terletak pada banyaknya makanan di meja, melainkan pada hadirnya rasa terima kasih di dalam hati.





