
Adab Lebih Tinggi dari Ilmu
Oleh: Muhammad Aldi Yahya Pengajar Al-Qur’an di SDIT Alam Cahaya Toboali
ILMU dapat meninggikan derajat seseorang, tetapi adablah yang menjaga kemuliaannya.
Di tengah semangat menuntut ilmu yang begitu besar, sering kali ada satu hal yang terlupakan, yaitu adab. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, adab justru diletakkan sebelum ilmu. Para ulama salaf pernah mengatakan, “Kami mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat, tetapi merupakan gambaran tentang bagaimana generasi terbaik umat ini membangun fondasi keilmuan mereka.
Ilmu memang mulia. Namun, ilmu tanpa adab dapat menyeret seseorang pada kesombongan. Seseorang dapat merasa paling benar, mudah meremehkan orang lain, bahkan menyalahgunakan pengetahuannya. Sebaliknya, adab tanpa ilmu memang belum sempurna, tetapi masih membawa keselamatan. Orang yang beradab mengetahui batas dirinya, mengetahui cara menghormati orang lain, serta tidak mudah merendahkan.
Al-Qur’an memberi isyarat kuat tentang kedudukan adab. Dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah memerintahkan orang beriman untuk memberi kelapangan dalam majelis dan menaati arahan yang diberikan. Setelah perintah tentang sikap dan tata krama tersebut, barulah Allah menyebutkan tentang pengangkatan derajat orang beriman dan orang berilmu.
Susunan ayat ini memberi pelajaran bahwa adab di majelis didahulukan sebelum kemuliaan ilmu disebutkan. Artinya, ilmu akan mengangkat derajat seseorang apabila memiliki adab dalam membawa dan mengamalkannya.
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 2, Allah juga melarang kaum beriman meninggikan suara di atas suara Nabi Muhammad. Bahkan ditegaskan bahwa pelanggaran adab tersebut dapat menghapus amal tanpa disadari. Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya persoalan adab. Bukan sekadar sopan santun sosial, melainkan bagian dari penjagaan iman dan amal.
Mengapa Adab Harus Lebih Dahulu
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Riwayat Ahmad.
Hadis ini menegaskan bahwa inti risalah Islam adalah penyempurnaan akhlak. Ilmu yang diajarkan Nabi bukan sekadar informasi hukum, melainkan pembinaan karakter dan pembentukan jiwa.
Dalam hadis lain disebutkan bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Namun, para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang membawa ke surga adalah ilmu yang disertai adab dan diamalkan dengan benar. Tanpa adab, ilmu dapat kehilangan keberkahannya.
Adab adalah fondasi. Adab mengatur bagaimana seseorang bersikap kepada guru, orang tua, teman, dan masyarakat. Adab juga mengatur bagaimana menyikapi perbedaan pendapat serta menerima kebenaran.
Orang berilmu tanpa adab mudah terjatuh pada sikap merasa paling tahu. Seseorang mungkin cerdas secara intelektual, tetapi miskin kebijaksanaan. Sebaliknya, orang yang menjaga adab akan berhati-hati dalam berbicara, rendah hati dalam berdiskusi, serta tulus dalam menuntut ilmu.
Karena itu, para ulama terdahulu sangat menjaga adab di hadapan guru. Mereka duduk dengan penuh hormat, tidak memotong pembicaraan, serta tidak berbicara kecuali dengan izin. Mereka memahami bahwa keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada banyaknya hafalan, tetapi pada sikap hati ketika menerimanya.
Adab adalah Mahkota Ilmu
Ilmu ibarat cahaya. Namun, cahaya tersebut dapat menyilaukan dan membakar apabila tidak diarahkan dengan adab. Adab menjadi mahkota yang memperindah ilmu sekaligus penjaga agar ilmu tidak berubah menjadi sumber kerusakan.
Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad. Keduanya saling melengkapi, tetapi adab menjadi pintu pertama yang harus dijaga.
Semoga Allah menjadikan kita bukan hanya orang yang gemar belajar, tetapi juga hamba yang beradab dalam mencari dan mengamalkan ilmu. Karena pada akhirnya, kemuliaan seorang hamba bukan hanya pada apa yang diketahui, tetapi pada bagaimana bersikap terhadap apa yang diketahui.





