Penjilat dan Menjilat
MENJILAT kini bukan sekadar perilaku memalukan, tapi sudah jadi jalan hidup baru yang dibungkus senyum dan kata manis. Mereka yang menjilat merasa aman, mereka yang dijilat merasa penting. Inilah potret dunia tanpa malu, di mana harga diri dijual murah demi kenyamanan sesaat.
Di dunia yang semakin kehilangan rasa malu, menjilat kini bukan lagi perilaku yang disembunyikan, tapi ditampilkan. Menjilat telah menjadi kebiasaan, gaya hidup, bahkan cara baru untuk diakui. Lidah tak lagi bicara kebenaran, tapi menyesuaikan arah angin. Siapa yang paling pandai menunduk, dialah yang dianggap bijak. Siapa yang paling rajin memuji, dialah yang paling disayang. Dunia berputar dengan wajah-wajah manis yang menyembunyikan kepalsuan di balik senyum yang dibuat-buat.
“Menjilat bukan sekadar perilaku, tapi strategi bertahan hidup bagi mereka yang tak lagi punya keberanian untuk jujur,” babelhebat.com.
Baca Juga: APBD Ratusan Miliar, Rakyat Bangka Selatan Masih Kelaparan
Penjilat dan menjilat sama-sama penjilat dan menjilat karena untuk apa dan demi apa kalau bukan demi kepentingan segala-galanya. Tak peduli benar atau salah, yang penting menguntungkan. Menjilat tanpa rasa bersalah, seolah lidah memang diciptakan bukan untuk bicara, tapi untuk mengelus-ngelus kenyamanan orang lain agar hidupnya aman.
Banyak yang bangga menjadi penjilat. Mereka berjalan dengan dada tegap seolah menjilat adalah prestasi. Padahal, di balik senyum itu tersimpan ketakutan luar biasa untuk menjadi diri sendiri. Takut kehilangan tempat, takut tak dianggap, takut tak disapa. Maka menjilat pun menjadi cara baru untuk bertahan, sekaligus cara lama untuk menyerah.
“Yang menjilat hidup dari rasa takut, dan yang dijilat hidup dari rasa haus. Keduanya saling mengisi, saling menipu, dan sama-sama kehilangan harga diri,” babelhebat.com.
Baca Juga: Joget Pejabat, Murka Rakyat
Lidah yang dulu diciptakan untuk berbicara jujur kini berubah menjadi alat pelicin. Setiap kata disusun rapi, setiap kalimat disesuaikan dengan selera yang ingin dijilat. Tak ada kejujuran, yang ada hanya kalkulasi. Semua diukur dari manfaat, bukan dari makna. Semakin pintar menjilat, semakin besar peluang untuk diterima.
Yang menjilat hidup dari rasa takut, sementara yang dijilat hidup dari rasa haus. Haus akan pujian, haus akan penghormatan, haus akan sanjungan yang menipu. Mereka saling membutuhkan seperti cermin yang memantulkan kebohongan dari dua arah. Yang satu butuh pengakuan, yang lain butuh perlindungan. Keduanya sama-sama lemah, tapi menyembunyikan kelemahan itu dengan ritual saling menjilat yang tak berujung.
Sekarang penjilat dan menjilat sudah seperti udara. Ada di mana-mana. Di meja, di ruang, di antara percakapan dan senyum. Mereka hadir tanpa malu, berbicara manis di depan, menikam di belakang, dan bersembunyi di balik alasan demi kenyamanan bersama. Padahal sesungguhnya, yang diperjuangkan hanyalah diri sendiri.




