Nasional-Internasional
Trending

HPN 2026, Dewan Pers Pastikan Pers Tak Tumbang oleh Disrupsi Digital

HARI Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan arah pers di tengah guncangan teknologi digital. Dari Serang, Banten, Dewan Pers menyampaikan pesan tegas bahwa disrupsi bukan akhir jurnalisme, melainkan bagian dari perjalanan panjang peradaban yang selalu menuntut adaptasi dan keberanian berubah.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan bahwa disrupsi digital bukan fenomena baru dalam sejarah manusia. Perubahan besar, menurutnya, selalu hadir dalam setiap fase peradaban dan justru menjadi pendorong kemajuan.

“Jika kita berpikir secara serius, sejarah selalu berkembang melalui tesis, antitesis, dan sintesis. Disrupsi selalu hadir di panggung sejarah, dan karena disrupsi itulah peradaban manusia menjadi maju,” ujar Komaruddin saat menyampaikan pidato dalam Konvensi Nasional Media Massa pada peringatan Hari Pers Nasional 2026, Minggu (8/2) dikutip dari laman resmi dewan pers.

Baca Juga: Lampung Resmi Tuan Rumah Porwanas 2027

Setiap era disrupsi selalu menuntut kreativitas dan inovasi. Namun tidak semua orang merespons perubahan dengan sikap yang sama. Komaruddin memetakan tiga kelompok dalam menghadapi disrupsi, mulai dari mereka yang merasa kalah dan terus mengeluh, kelompok yang bertahan sambil menunggu momentum, hingga kelompok kreatif dan pionir yang mampu membuka jalan baru.

Disrupsi kemudian dianalogikan seperti banjir akibat hujan lebat. Pada awalnya menghadirkan kekacauan, lumpur, dan kerusakan. Namun dalam jangka panjang, banjir juga membawa kesuburan dan mendorong manusia menata ulang lingkungan serta sistem kehidupan.

Analogi tersebut dinilai relevan dengan kondisi media massa di era digital. Arus informasi yang tidak terkendali, hoaks, dan pemutarbalikan fakta membuat sebagian masyarakat terjebak dalam situasi informasi yang membingungkan. Namun pada akhirnya publik akan mencari sumber berita yang kredibel dan dapat dipercaya.

“Kondisi ini terjadi pada media massa. Ketika disrupsi membuat masyarakat bingung karena hoaks dan misinformasi, pada akhirnya mereka akan mencari sumber berita yang terpercaya,” kata Komaruddin.

1 2Laman berikutnya