babelhebatArtikelNasional/InternasionalPendidikan

LGBT Sebuah Ancaman Generasi Muda, Patut Diwaspadai

Oleh : Nusation Anwar Penyuluh Sosial Ahli Madya Pada Dinas Sosial dan PMD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

MEMBACA berita di portal JawaPos.com sebagaimana dilansir pada Selasa tanggal 25 Juli 2023, sulit dibayangkan bagaimana tragis dan sadisnya perilaku pelaku pembunuhan dengan mutilasi kepada adinda Redho Tri Agustian mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang menjadi korban pembunuhan yang sangat viral baru-baru ini.

Kejadian keji seperti ini memang sering menghiasi berita media massa dan sudah berulang kali terjadi hampir disetiap pelosok bumi pertiwi ini. Namun, yang sangat memilukan adalah peristiwa ini disinyalir dilakukan oleh kelompok LGBT yang notabene menjadi objek penelitian adinda Redho.

Dengan berbagai modus, pola, motif dan permasalahan yang melatar belakangi peristiwa tersebut. Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki komitmen dan idealis tinggi, tentunya semangat dan perjuangannya patut diacungi jempol dan apresiasi atas keberaniannya membongkar fakta dan data tentang perilaku menyimpang LGBT sebagaimana tanggung jawabnya selaku peneliti.

Kita masih terus berharap dan menunggu titik final pembongkaran kasus ini yang sedang dilakukan pihak kepolisian. Mudah-mudahan perjuangan Redho dalam menelusuri sisi-sisi kehidupan LGBT bisa diteruskan oleh rekan-rekan mahasiswa lainnya, sehingga memberikan manfaat penting bagi masyarakat dalam mengenali dan menyikapi perilaku abnormal LGBT.

BACA JUGA : Waspadai LGBT, Sayangi Anak-Anak Kita

Belajar dari tragedi pembunuhan yang dialami oleh seorang Redho, tentunya banyak sekali pelajaran penting untuk kita renungkan dan kenali lebih dalam lagi agar upaya-upaya meminimalisir dampak sosial berikutnya sedini mungkin bisa dicegah. Kegamangan dalam mengenali perilaku menyimpang dan perbuatan-perbuatan abnormal terutama yang berhubungan dengan perilaku para LGBT sudah seyogyanya dipahamkan kepada anak-anak dan remaja kita.

Segala bentuk nilai, gestur, penampilan, gaya bicara dan sikap perilaku LGTB yang sering kita amati baik di media mainstream maupun media online/medsos seakan-akan diakui dan diporsikan sebagai tontonan yang lumrah dan tayangan biasa bahkan sangat digandungi. Perhatikan secara seksama, mungkin tidak ada tayangan yang luput dari peran feminin meskipun yang memerankannya seorang ‘pria sejati’, apakah ini hanya sebatas fenomena semata, tentunya tidak, ini sebuah kenyataan yang sedang dipamerkan kepada khalayak namun tanpa disadari telah menggeroti nilai-nilai moral dan sosial padahal proses internalisasi nilai-nilai abnormal sedang berlangsung yang menerobos kekosongan nilai ke dalam jiwa anak-anak dan remaja kita.

Apakah kenyataan ini harus terus mengusik sendi-sendi moralitas dan mentalitas anak negeri…? sudah cukup keprihatinan kita dengan kejadian adinda Redho, apa mungkin akan terulang? Sangat mungkin, jikalau semua elemen bangsa ini tidak bergerak dan membatasi ruang gerak dan aksi perilaku abnormal para LGBT yang mana secara vulgar dihidangkan sebagai menu tontonan anak-anak dan remaja saat ini.

BACA JUGA : Penghargaan KLA Cambuk Bagi Daerah untuk Melindungi Anak

Bisa jadi suatu saat kisah menyedihkan seperti ini akan terjadi pada orang-orang terdekat kita, tentunya tidak satu pun dari kita menginginkan hal itu terjadi. Sayangnya, sebagian dari kita justru berada dalam skenario jebakan yang secara berulang-ulang kita lakukan, anehnya kita anggap biasa saja. Tidak hanya itu, perhatikan juga kebiasaan-kebiasaan tanpa pengetahuan yang kuat diperagakan lewat acara seremonial, teater, panggung, karnaval, acara-acara pesta demokrasi, hari kemerdekaan serta peragaan busana bahkan festival yang mengusung tema abnormal tadi dengan begitu gampang dihidupkan dalam skala masiv sekaligus dipertontonkan perilaku, gaya dan cara bicara, gestur, konsep feminisme kepada masyarakat luas.

Kita ambil contoh bagaimana bernafsunya anak remaja dan tak terkecuali orang tua juga ambil bagian dalam mengusung tema-tema feminin padahal tak sewajarnya itu dilakukan oleh seorang laki-laki sehat akal sehat fisik, tuntutan skenario cerita atau syarat tertentu (kontradiktif) sering mengajak kita berkompromi dengan perilaku yang menyimpang dan berpotensi menghidupkan agenda besar LGBT.

BACA JUGA : Perlindungan Anak untuk Masa Depan Bangsa

Ironisnya, baik yang memperagakan maupun yang menonton justru mereka seringkali merasa bangga dan menyukai dengan tampilan figur-figur kontradiktif dengan kenyataan hidupnya, mereka disuguhkan lewat simbol-simbol konyol dengan kepalsuan identitas yang tak bermoral tersebut. Adakalanya laki-laki berpenampilan wanita begitu juga sebaliknya, dengan tegas dan jelas kita saksikan manakala memperingati hari-hari besar nasional (kemerdekaan) berbagai pesta rakyat dalam suasana kebebasan berekspresi namun minim etika moral (baca;agama), bahkan sekolah-sekolah pun menyambut dengan gegap gempita. Terkesan asyik padahal ini sebuah skenario besar menuju kehancuran moral anak bangsa.

Sudah sepatutnya bagi kita orang tua mewaspadai fenomena sosial yang dari hari ke hari semakin menganga ke permukaan, sepertinya aroma tata cara kehidupan LGBT bagi sebagian anak-anak dan remaja kita suatu hal yang lumrah dan tidak dipertentangkan. Kita tidak berharap fenomena ini seperti ‘gunung es’ yang tiba-tiba muncul tanpa terdeteksi, sehingga pada waktunya kita menyesal dan tertunduk malu karena merasa berdosa dan tidak berbuat apa-apa untuk menjaga generasi kita, mari kita saling menguatkan niat dan langkah untuk melawan apapun bentuk penistaan dan penyimpangan baik sikap perilaku dan nilai moral yang bertentangan dengan kaidah agama, adat, susila dan hukum.

Mulailah bergerak dan berbenah, jangan lengah dan segera bangun kekuatan moral dan aksi sosial untuk menghalau bahaya laten yang senantiasa siaga mengintai keteledoran kita. Pergaulan bebas tanpa nilai menjadi pintu masuk tumbuhnya perilaku menyimpang atau abnormal, kewaspadaan harus tetap dijaga oleh semua lapisan masyarakat. Semoga korban redho-redho muda lainnya tidak pernah terdengar lagi. Lawan LGBT dengan kebijakan yang pro kepada moralitas dan nilai-nilai luhur bangsa, bangun karakter sejati anak Indonesia.

Jika lengah tinggal menunggu saatnya tiba, loss generation bermoral sudah diambang pintu. Dipenghujung tulisan ini, izinkan mengutip saran dari dr. Ani Hasibuan bahwa dalam menghadapi kaum LGTB ini ada beberapa yang harus dilakukan, yakni : 1) ajarkan anak-anak kita untuk bertindak agresif kalau ada yang coba-coba mengoda (gay), jangan kasih ampun dan muka; 2) jangan takut main fisik, karena kalau dibiarkan dan didiamkan para gay ini makin semangat dan berani; 3) jangan izinkan anak-anak bepergian sendirian ke tempat yang belum diketahui, jangan sekali-kali mendekati dan memberi sapa kepada mereka; 4) Ingat, cerita tentang LGBT (gay) semua berakhir tragis, kisah para gay berujung dengan tokso, kripto, TB, pnemonia, kandida, penganiayan, pembunuhan dan yang paling dahsyat lagi mati sendirian tanpa didampingi kaumnya. Sungguh merana…!!!

Begitu pula nasehat dalam islam yang mengajarkan kita untuk mencegah sedini mungkin penyimpangan seksual atau perilaku abnormal. Ajaran Rasulullah mesti menjadi perisai awal agar kita mampu mencegah keluarga dan umatnya dari berperilaku menyimpang. Sabda Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihiwassalam, “Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan salat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (bila tidak mau mengerjakannya) saat mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).

Penyimpangan seksual dalam bentuk homoseksualitas, lesbianisme, ataupun inses hubungan seksual dengan kerabat dekat sangat mungkin terjadi karena faktor kebiasaan dalam lingkungan keluarga. Artinya, seorang anak yang terbiasa tidur satu ranjang dengan saudaranya sesama jenis dapat muncul dalam dirinya kesenangan terhadap sesama jenis (homoseks ataupun lesbian). Kasus yang sama juga bisa terjadi dalam perkawinan inses.

Karena itu, Nabi sangat tegas memerintahkan agar tempat tidur anak-anak dipisahkan, baik mereka sesama jenis maupun lain jenis. Para orang tua harus benar-benar memperhatikan masalah yang sangat penting ini. Bayangkan, hal tempat tidur saja masih diatur dalam agama, bagaimana dengan hal-hal yang besar lagi.

Berikutnya, dengan membiasakan anak-anak bermain dengan alat ataupun jenis permainan sesuai dengan jenis kelamin mereka. Rasulullah SAW memerintahkan para orang tua mengajari anak-anak laki-laki berlatih memanah, berkuda, dan bermain pedang. Sedangkan, anak-anak perempuan, sebagaimana dilakukan Aisyah RA saat masih kecil, biasa bermain boneka. Pesan rasulullah ini mengisyaratkan bahwa peran dan tanggung lingkungan keluarga terutama ayah dan ibu adalah faktor determinan dan prinsip dalam membentuk pribadi yang kokoh dan utuh serta membangun kehidupan yang diridhoi yang dikehendaki Allah subhanahu wata’ala. Betapa pentingnya lembaga keluarga dalam mengawal dan membentuk perilaku normal dan berakhlak, semoga kita dihindarkan dari segala fitnah dan kekejian ini. Aamiin

Tom Hebat

Berdiri Diatas Semua Golongan

Related Articles

Back to top button